Monday, 21 November 2011

Diplomasi Total Masyarakat Indonesia di Inggris Disambut Positif


Foto bersama sebelum acara dimulai (Doc. Endarko)
Manchester, 19 November 2011.
Upaya masyarakat Muslim Indonesia di UK untuk terus menunjukkan identitasnya sebagai pribadi muslim yang tekun dalam bekerja, patuh terhadap hukum dan cenderung moderat mendapat respon positif dari berbagai pihak. Hal itu terungkap dalam Diskusi Panel dalam salah satu sesi acara KIBAR Autumn Gathering 2011 di Manchester, Inggris. KIBAR adalah kependekan dari Keluarga Islam Indonesia di Britania Raya, sebuah organisasi yang mewadahi semua komponen Muslim Indonesia di Inggris Raya. Acara Kibar Gathering sendiri merupakan agenda rutin dua kali setahun yang diselenggarakan oleh Kibar sebagai ajang temu ramah sambil berbagi ilmu bagi seluruh komponen Muslim Indonesia dari segala penjuru Inggris Raya (England, Wales, Scotland dan Irlandia). Acara yang dibuka secara resmi oleh Kuasa Usaha Ad-Interim KBRI London, Bapak Herry Sudrajat ini berlangsung selama dua hari satu malam mulai tanggal 19 sampai 20 November 2011 di Kota Manchester.


Ketua Panitia, Dono Widiatmoko mengatakan bahwa kegiatan gathering ini selalu ditunggu-tunggu oleh seluruh komponen Muslim Indonesia di UK. Sedangkan Ketua Kibar, Abram Perdana dalam sambutannya mengharapkan agar gathering ini dapat dimanfaatkan oleh seluruh peserta untuk menguatkan jalinan persaudaraan dan menjadi ajang saling berbagi ilmu. 


Pembukaan oleh KUAI KBRI London, Herry Sudrajat

Peserta putri beserta pejabat KBRI

Hadir dalam acara tersebut sekitar 250-an orang warga Muslim Indonesia dari seluruh penjuru Inggris Raya seperti dari Southampton, Bristol, Newcastle, Glasgow, Birmingham, York, London, Nottingham dan sebagainya. Turut hadir adalah Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI London, Prof. T.A. Fauzi Soelaiman, Atase Pertahanan, Kol. Nurcahyanto beserta beberapa staf KBRI London.

Kegiatan ini juga dimeriahkan dengan berbagai diskusi panel, acara anak, charity event dan bazaar masakan khas Indonesia.
Peran Muslim Indonesia di UK dalam Dakwah dan Diplomasi
(Kiri: Indah Morgan, Yosritzal, Vitto Tahar dan Iswandaru W)
Tampil pada sesi pertama adalah Bapak Vitto Tahar, Sekretaris I Ekonomi KBRI London, Ibu Indah Morgan, seorang aktifis perempuan dan Koordinator Pelaku Kawin Campur Melati World Wide untuk Wilayah Inggris dan Irlandia, serta Bapak Iswandaru Widiyatmoko, seorang pekerja professional Indonesia di UK yang saat ini dipercaya menjadi Manager di URS-Scottwilson,sebuah perusahaan konstruksi terkemuka di Inggris. Diskusi ini dipandu oleh Yosritzal (Dosen Universitas Andalas yang juga Mantan Ketua Kibar 2010-2011). Topik yang dibahas adalah Peran Komunitas Muslim Indonesia dalam Dakwah dan Diplomasi di UK. Sebuah topik yang tentu sudah tidak asing lagi bagi ketiganya karena telah lama berkecimpung dan menjadi pelaku dari topik itu sendiri. Ketiga pembicara mampu menjelaskan dengan sangat gamblang bagaimana peran serta muslim Indonesia di UK berdasarkan perspektif dan pengalaman masing-masing. Pembicara pertama yakni Bapak Vitto Tahar, meninjau dari sudut kebijakan luar negeri Indonesia. Ibu Indah Morgan memandang dari perspektif aktifis social sedangkan Bapak Iswandaru memandang dari sisi kondisi ideal dan realita.

Pada intinya, semua nara sumber sepakat bahwa sebagai interface yang berinteraksi langsung dengan warga Negara asli Inggris, muslim Indonesia mesti memperlihatkan karakter muslim Indonesia yang taat, moderate, bekerja secara professional serta terus menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar, meskipun bukan muslim. Tentunya dalam berinteraksi, ada hal-hal yang patut dicermati antara lain budaya dan kearifan lokal sehingga maksud baik yang disampaikan tidak disalah tafsirkan oleh mereka. Hal ini sejalan dengan kebijakan diplomasi Indonesia yang memilih metode Total Diplomasi dimana pemerintah dan seluruh warga bahu-membahu memberikan citra yang baik bagi kepentingan Indonesia.
Integration: A Muslim Perspective (Berdiri: Talha Ahmad, duduk: hendri Lucky)
Sesi kedua diisi oleh Talha Ahmad dari Muslim Council of Britain (MCB) dengan dimoderatori oleh Hendri Luky. Senada dengan pembicara terdahulu, Talha menekankan pentingnya ummat Islam untuk ikut terlibat dalam kegiatan kemasyarakatan di UK supaya terjalin saling pengertian antara Muslim dan Non-Muslim.


Membangun Ketahanan Keluarga Muslim (keluarga SAMARA)
(Kiri: Maimun Herawati, Mhd. Muhtar A Sholeh, Richard Claire)
Sesi berikutnya menampilkan Maimun Herawati atau yang lebih dikenal dengan nama pena Muthmainnah, penulis novel best seller “Pingkan” yang tampil pada sesi kedua bersama Brother Richard Claire, dan dimoderatori oleh Muhammad Muhtar Arifin Sholeh (mantan Ketua Kibar 2009-2010) memukau peserta dengan uraian bagaimana kisah keluarga Nabi dan para sahabatnya dalam membina keluarga sakinah mawaddah wa rohmah. Pendidikan dalam keluarga yang bagaimana yang mampu melahirkan orang-orang seperti Ali bin Abi Thalib yang bersedia ketika diminta Rasulullah untuk menggantikan tempat tidur beliau, padahal Ali tahu bahwa malam itu pemuda-pemuda perkasa dari seluruh kabilah besar akan dating untuk membunuh Nabi SAW. Begitu juga dengan kisah Asma, Fatimah dan para sahabat lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa walaupun keluarga Nabi dan sahabat sebelum ke-Nabi-an berada ditengah masyarakat yang jahiliyah, tapi pendidikan keluarga mereka mampu melahirkan mutiara-mutiara Islam pada masa setelah ke-Nabi-an. Kondisi pada saat itu jauh lebih buruk dari kondisi Inggris saat ini dimana walaupun Islam minoritas, namun kesempatan untuk mendapatkan/menjalankan ibadah tetap terbuka dan difasilitasi oleh pemerintah Inggris.
Beware of Haram
(Duduk: Nanung Danar Dono, berdiri: Mhd. Agus Junaedi)
Sementara itu, Ustadz Nanung Danar Dono (mantan sekretaris LPPOM MUI Yogyakarta yang sekarang sedang menyelesaikan study S3 di University of Glasgow) tampil pada hari kedua dengan bahasan bagaimana tips-tips menjaga kehalalan setiap barang yang dikonsumsi. Beliau menegaskan bahwa tidak cukup melihat halal/haramnya makanan hanya dengan melihat ada tidaknya unsur babi atau anjing dalam makanan. Kita juga mesti melihat apakah hewannya disembelih dengan menyebut nama Allah, tidak mengandung alcohol dan zat yang haram lainnya serta diperoleh dengan cara yang halal pula.
Pidato penuutupan oleh Atdikbud KBRI London, Prof. T.A. Fauzi Soelaiman
Acara yang ditutup secara resmi oleh Atase Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia KBRI London, Bapak Prof. T.A. Fauzi Soelaiman ini mampu menginspirasi para peserta untuk tetap komit menjalankan Islam dan menjaga sikap dan tingkah lakunya untuk memberikan wajah Islam yang Rahmatan lil-alamiin.

Versi lain tulisan ini telah dimuat di:

Muslim Indonesia di Inggris Raya Mendapat Penilaian Positif

Sesi Pertama, dari kiri ke kanan: Indah Morgan, Yosritzal,
Vitto Tahar dan Iswandaru Widyatmoko
Manchester, 19 November 2011. Muslim Indonesia di UK dinilai tekun dalam bekerja, patuh terhadap hukum dan cenderung moderat. Hal itu terungkap dalam Diskusi Panel dalam salah satu sesi acara KIBAR Autumn Gathering 2011 di Manchester, Inggris. KIBAR adalah kependekan dari Keluarga Islam Indonesia di Britania Raya, yaitu sebuah organisasi yang mewadahi semua komponen Muslim Indonesia di Inggris Raya. Acara Kibar Gathering sendiri merupakan agenda rutin dua kali setahun yang diselenggarakan oleh Kibar sebagai ajang temu ramah sambil berbagi ilmu bagi seluruh komponen Muslim Indonesia dari segala penjuru Inggris Raya (mencakup England, Wales, Scothland dan Irlandia). Acara yang dibuka secara resmi oleh Kuasa Usaha Ad-Interim KBRI London, Bapak Herry Sudrajat ini berlangsung selama dua hari satu malam mulai tanggal 19 sampai 20 November 2011 di Kota Manchester. 

Hadir dalam acara tersebut sekitar 250-an orang warga Muslim Indonesia dari seluruh penjuru Inggris Raya seperti dari Southampton, Bristol, Newcastle, Glasgow, Birmingham, York, London, Nottingham dan sebagainya. Turut hadir adalah Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI London, Prof. T.A. Fauzi Soelaiman, Atase Pertahanan, Kol. Nurcahyanto beserta beberapa staf KBRI London. Kegiatan ini juga dimeriahkan dengan berbagai diskusi panel, acara anak, charity event dan bazaar masakan khas Indonesia. 

Tampil pada sesi pertama adalah Bapak Vitto Tahar, Sekretaris I Ekonomi KBRI London, Ibu Indah Morgan, seorang aktifis perempuan dan Koordinator Pelaku Kawin Campur Melati World Wide untuk Wilayah Inggris dan Irlandia, serta Bapak Iswandaru Widiyatmoko, seorang pekerja professional Indonesia di UK yang saat ini dipercaya menjadi Manager di URS-Scottwilson,sebuah perusahaan konstruksi terkemuka di Inggris. Diskusi ini dipandu oleh Yosritzal (Dosen Universitas Andalas yang juga Mantan Ketua Kibar 2010-2011). Topik yang dibahas adalah Peran Komunitas Muslim Indonesia dalam Dakwah dan Diplomasi di UK. Sebuah topik yang tentu sudah tidak asing lagi bagi ketiganya karena telah lama berkecimpung dan menjadi pelaku dari topik itu sendiri. Ketiga pembicara mampu menjelaskan dengan sangat gamblang bagaimana peran serta muslim Indonesia di UK berdasarkan perspektif dan pengalaman masing-masing. Pembicara pertama yakni Bapak Vitto Tahar, meninjau dari sudut kebijakan luar negeri Indonesia. Ibu Indah Morgan memandang dari perspektif aktifis social sedangkan Bapak Iswandaru memandang dari sisi kondisi ideal dan realita. 

Dalam pengantarnya, Vitto Tahar banyak merinci tugas-tugas KBRI dalam mengayomi kepentingan nasional termasuk didalamnya komunitas Muslim Indonesia di UK. Beliau menegaskan kembali semboyan ‘Total Diplomasi’ yg menjadi metode diplomasi yang dipilih dalam kebijakan luar negeri Indonesia. Total Diplomasi sendiri dicetuskan pertamakali oleh mantan Menlu Hasan Wirayudha,dan merupakan metode diplomasi dimana fungsi diplomasi sebagai perpanjangan kepentingan nasional harus dilaksanakan secara bahu-membahu oleh pemerintah dan seluruh komponen masyarakat Indonesia termasuk yang bermukim diluar negeri. 

Sementara itu, pembicara kedua, Indah Morgan menyoroti adanya kasus dimana muslimah Indonesia yang kawin campur dengan warga negara lain menjadi bingung dan akhirnya lupa dengan budaya dan agamanya sendiri atau lebih dikenal dengan istilah “lebih bule dari bule”. Ada juga kasus dimana pelaku kawin campur tersebut tidak tahu hak-haknya sebagaiistri berdasarkan aturan di Negara dimana dia tinggal sehingga sering tidak mendapatkan haknya tersebut jika tidak mendapat pembelaan. Oleh karena itu, Indah Morgan menghimbau agar setiap muslim untuk tidak hanya peduli terhadap dirinya sendiri, tetapi juga harus peduli terhadap masyarakat sekitarnya. Jika ada diantara mereka yang menjadi korban/diperlakukan tidak adil, maka adalah tugas kita untuk membantunya untuk mendapatkan keadilan tersebut. Kita juga mesti terus menerus memproteksi agar saudara-saudara kita tersebut tidak terjerumus ke dalam kemurkaan Allah. 

Pembicara berikutnya, Iswandaru Widyatmoko, menyampaikan bahwa saat ini Ummat Islam banyak mendapat stigma negative dari dunia barat seperti teroris, terbelakang, miskin, jorok dan lain sebagainya. Bahkan Islamophobia semakin mendapat dukungan dari beberapa kalangan masyarakat. Alumnus ITB, Birmingham University dan Sheffield Hallam University ini mengajak ummat Islam untuk introspeksi, barangkali sikap dan tindakan kitalah yang membuat Islamophobia tersebut mendapatkan justifikasi. “Jika kita menampilkan Islam dengan wajah yang keras dan beringas, maka orang lain akan merasa terancam dengan kehadiran kita yang pada tahap selanjutnya memicu tumbuh dan berkembangnya gerakan anti Islam. Padahal Nabi SAW tidak pernah mencontohkan demikian dalam kehidupannya. Intinya adalah, kembali mempedomani Al-Qur’an dan sunnah Nabi agar dapat menampilkan Islam yang “Rahmatan Lil ‘alamiin” (Rahmat bagi sekalian alam). Allah mengajarkan bahwa setelah melakukan sholat, hendaklah kita bertebaran di muka bumi, berinteraksi dengan masyarakat lainnya sehingga keberuntungan itupun bisa diraih.” paparnya. 

Maemon Herawati atau yang lebih dikenal dengan nama pena Muthmainnah, penulis novel best seller “Pingkan” yang tampil pada sesi kedua bersama Brother Richard Claire, dan dimoderatori oleh Muhammad Muhtar Arifin Sholeh (mantan Ketua Kibar 2009-2010) memukau peserta dengan uraian bagaimana kisah keluarga Nabi dan para sahabatnya dalam membina keluarga sakinah mawaddah wa rohmah. Ustadz Nanung Danar Dono (mantan sekretaris LPPOM MUI Yogyakarta yang sekarang sedang menyelesaikan study S3 di University of Glasgow) tampil pada hari kedua dengan bahasan bagaimana tips-tips menjaga kehalalan setiap barang yang dikonsumsi. Acara ditutup secara resmi oleh Atase Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia KBRI London, Bapak Prof. T.A. Fauzi Soelaiman.

Tulisan ini telah dimuat di:

Sunday, 13 November 2011

Enjoying Autumn in England 2011

Menikmati keromantisan musim gugur bersama keluarga di Taman St. James dekat Buckingham Palace dan di Taman Leazes Newcastle dengan diiringi lagu Entah dari Iwan Fals. Selamat menikmati...
Clip video berikut masih bagian dari dokumentasi autumn di St. James Park, Nunsmoore Park dan Leazes Park dengan diiringi lagu For The Rest of My Life dari Maher Zain.

Oopss...ternyata lagu For The Rest of My Life dari Maher Zainnya diproteksi oleh YouTube sehingga tidak bisa keluar dan ditawarkan untuk memilih lagu lain dengan disisipi iklan. Gimana ya? Daripada bisu, akhirnya dipilihlah lagu ini. Entah siapa yang menyanyikannya, setidaknya lagu ini menyebut-nyebut autumn dan bulan Oktober - November (saat terjadinya autumn).

 

Sunday, 6 November 2011

Kilas balik (Eidul Adha 1430-1432H)

Foto bersama selepas shalat Eid
Hari ini adalah kali ketiga aku merayakan Eidul Adha di Tanah Geordie ini. Walau sudah tiga kali, tapi selalu terasa berbeda. Entah karena suasananya atau karena lokasinya.

Sunday, 30 October 2011

The Golden Autumn 2011

Kata-kata tak sanggup melukiskan keindahan Autumn ini. Biarlah foto-foto berikut saja yang menguraikannya. Semoga dengan melihat fenomena ini membuat kita semakin tunduk kepada kuasa Sang Pencipta.

"...pabila cinta memanggilmu... ikutilah dia walau jalannya berliku-liku... Dan, pabila sayapnya merangkummu... pasrahlah serta menyerah, walau pedang tersembunyi di sela sayap itu melukaimu..." (Kahlil Gibran)


"Tubuh mempunyai keinginan yang tidak kita ketahui. Mereka dipisahkan karena alasan duniawi dan dipisahkan di ujung bumi. Namun jiwa tetap ada di tangan cinta... terus hidup... sampai kematian datang dan menyeret mereka kepada Tuhan..." (Kahlil Gibran)

"Jangan menangis, Kekasihku... Janganlah menangis dan berbahagialah, karena kita diikat bersama dalam cinta. Hanya dengan cinta yang indah... kita dapat bertahan terhadap derita kemiskinan, pahitnya kesedihan, dan duka perpisahan." (Kahlil Gibran)

"Jika cinta tidak dapat mengembalikan engkau kepadaku dalam kehidupan ini... pastilah cinta akan menyatukan kita dalam kehidupan yang akan datang." (Kahlil Gibran)

"Apa yang telah kucintai laksana seorang anak kini tak henti-hentinya aku mencintai... Dan, apa yang kucintai kini... akan kucintai sampai akhir hidupku, karena cinta ialah semua yang dapat kucapai... dan tak ada yang akan mencabut diriku dari padanya." (Kahlil Gibran)

"Aku ingin mencintaimu dengan sederhana... seperti kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu... Aku ingin mencintaimu dengan sederhana... seperti isyarat yang tak sempat dikirimkan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada..." (Kahlil Gibran)

"Ketika tiba saat perpisahan janganlah ada duka, sebab yang paling kau kasihi dalam dirinya,mungkin akan nampak lebih cemerlang dari kejauhan." (Kahlil Gibran)

"Karena cinta berpamrih yang mencari sesuatu di luar jangkauan misterinya." (Kahlil Gibran)

"Persembahkan yang terindah bagi persahabatan. Jika dia harus tahu musim surutmu, biarlah diamengenali pula musim pasangmu.Karena persahabatan kan kehilangan makna jika mencarinya sekadar bersama guna membunuh waktuCarilah ia untuk bersama menghidupkan sang waktu." (Kahlil Gibran)




 

Tuesday, 13 September 2011

Membangkit Peradaban Islam; Sudut Pandang KIBAR



Tidak disangka ternyata tulisan mengenai tema membangkit peradaban Islam yang kutulis dan dimuat di Eramuslim (klik disini) beberapa bulan yang lalu ternyata banyak di share di berbagai blog. Antara lain bisa ditemui di sini dan di sini.

Sayangnya di blog sendiri malah kelupaan. Ya udah, berikut ku up-load lagi di blog sekaligus sebagai arsip. Selamat menikmati.



Membangkit Peradaban Islam; Sudut Pandang KIBAR

by. Yosritzal

Sebagaimana kita ketahui, bahwa pada masa lalu peradaban Islam setelah masa Rasulullah SAW dan para Shahabat RA, pernah mencapai masa gemilangnya dimana banyak sekali produk-produk ilmuwan muslim dan kebudayaan muslim menginspirasi dan memberikan kontribusi yang sangat gemilang bagi peradaban dunia. Kontribusi tersebut semakin nyata di saat terjadinya masa kegelapan di dunia Barat, walaupun sedikit sekali literature yang mencatat dan mengakuinya. Namun, selama beberapa masa setelah itu kita melihat bahwa kaum muslimin seperti mengalami kemunduran dan sudah tidak menonjol lagi dalam mempengaruhi peradaban dunia. Kenapa hal ini bisa terjadi, padahal menurut keyakinan ummat Islam, Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya?

Abad 21 telah dicanangkan sebagai abad kebangkitan Islam. Berbagai organisasi dan berbagai seminar telah dilaksanakan untuk mendukung terwujudnya kebangkitan peradaban Islam tersebut. Sayangnya mayoritas diskusi-diskusi yang berkembang hanyalah sebatas nostalgia kejayaan masa lalu. Belum ada kesepahaman bagaimana cara mewujud kembali kejayaan peradaban Islam itu kembali di masa yang akan dating.

Oleh karena itu, Kibar berusaha untuk mengarahkan diskusi-diskusi tersebut selangkah lebih maju yakni setelah mempelajari capaian-capaian peradaban di masa lalu, maka saatnya bagi seluruh komponen muslim untuk mulai berpikir langkah strategis untuk mencapai kejayaan tersebut kembali dimasa mendatang. Itulah sebabnya maka pada beberapa gathering Kibar belakangan ini tema besar yang diusung adalah mengenai Membangkit Peradaban Islam.

Pada Kibar Autumn Gathering 2009 di Manchester, tema-tema mengenai penemuan-penemuan yang dilakukan oleh para ilmuwan muslim diuraikan oleh berbagai nara sumber serta kontribusi muslim dalam membentuk peradaban dunia. Lalu pada Kibar Spring Gathering 2009, pembicara saat itu yakni Dr. Adian Husaini dan Dr. Fahmi Zarkasi memberikan beberapa poin penting akan kondisi ummat muslim saat ini serta utopia akan bangkitnya kembali peradaban Islam yang tinggi ini.

Berangkat dari hal tersebut, maka Kibar Autumn Gathering 2009 di Newcastle, kami merasa perlu mendudukkan langkah-langkah strategis dalam mewujudkan kejayaan peradaban Islam dengan mencontoh pada tuntunan Rasululllah SAW. Maka pada kesempatan tersebut, dengan berasusmsi bahwa pribadi-pribadi muslim saat ini sudah memahami kewajibannya untuk terus meningkatkan kulitas diri masing-masing, maka Kibar mengangkat tema membangkit peradaban melalui penguatan keluarga. Keluarga adalah bentuk komunitas pertama dan terkecil dalam peradaban. Peradaban Muslim yang tinggi akan tercermin jika setiap muslim memiliki kualitas yang baik dan mampu menciptakan suasana Islami dalam kehidupan keluarganya. Dalam hal ini, pembentukan peradaban sudah dimulai sejak menetapkan diri untuk siap membentuk keluarga, mencari pasangan, mengikat diri dalam ikatan pernikahan sampai kepada proses pendidikan anak sebagai generi penerus. Setiap langkah tersebut mestilah melalui tahapan yang sesuai dengan tuntunan nilai-nilai Islam.

Berikutnya, jika pembentukan keluarga sudah dilakukan dengan baik maka langkah selanjutnya adalah bagaimana meningkatkan peran keluarga tersebut dalam mewarnai masyarakat sekitarnya agar dapat hidup secara Islami. Tidak cukup seseorang merasa bahwa diri dan keluarganya telah sholeh lalu melupakan dan tidak peduli dengan kualitas diri para tetangganya. Untuk itu, langkah-langkah dakwah setiap anggota keluarga mesti terus dilakukan untuk membina masyarakat sekitarnya. Pembinaan masyarakat dapat dilakukan melalui organisasi-organisasi dakwah dan pemberdayaan masyarakat. Mustahil sebuah peradaban tinggi akan bisa dibentuk jika masyarakatnya lemah di segala sisi, baik sisi ekonomi, pendidikan, dan bidang-bidang lainnya.

Itulah makanya dalam Kibar Spring Gathering 2011 di Southamton tanggal 16-17 April 2011 kemaren, tema yang diambil adalah ‘Membangkit Peradaban Islam Melalui Penguatan Masyarakat.’ Hadir dalam kegiatan tersebut sekitar 250 orang muslim Indonesia se Britania Raya. Kegiatan yang dibuka dan ditutup oleh Atase Pendidikan KBRI London, Bapak Prof. T. K. Fauzi Sulaeman tersebut menampilkan pembicara kunci Dr. Abdul Bari (Mantan Sekretaris Jenderal Mouslim Council of Britain/MCB, sebuah organisasi yang menaungi warga muslim se Britania Raya). Turut hadir memberikan dukungan Bapak Kolonel Nurchahyanto (Atase Pertahanan KBRI London) dan beberapa pembicara utama.

Sejalan dengan Kibar, menurut Dr. Abdul Bari, seorang muslim itu haruslah seperti seorang sopir. Seorang sopir harus melihat tiga hal yaitu, keadaan dibelakang, keadaaan jauh di depan serta keadaan yang sedang dihadapi persis di depan mata. Masa lalu harus terus diperhatikan karena sejarah mengandung nilai-nilai pelajaran dan hikmah yang cenderung akan berulang, namun jangan terlena dengannya. Masa depan adalah sebuah visi yang terus dipegang. Sedangkan dalam bertindak, seorang muslim tidak boleh lengah dengan kondisi yang kekinian. Berpikir global dan komprehensif namun mesti bertindak local secara bersama-sama. Jika setiap muslim memiliki visi ke depan yang sama, maka dengan bertindak menyelesaikan segala factor penghambat disekitarnya (local), maka Insya Allah ummat Islam akan mampu menunjukkan ketinggian peradaban Islam tersebut di masa yang akan datang.

Wallahu’alam.

Ritzal405

Friday, 2 September 2011

Memaknai Eidul Fitri

Berpose dahulu sebelum memasuki lokasi Shalat Eid
Mengakhiri Ramadhan tahun ini, saya mencoba berbagi isi khutbah Eidul Fitri belasan tahun silam. Saat itu saya merayakan eidul Fitri di kampung halaman di pinggiran Danau Singkarak. Yang sangat berkesan dari khutbahnya itu adalah kemampuan sang khatib membawakan alur berpikir secara sederhana mengenai hakekat kemenangan di Hari Raya Eidul Fitri. Beliau menyitir Al-Quran surat Asy-Syam ayat 8-10 sbb: