Monday, 18 April 2011

Alhamdulillah tuntas sudah...

Serah terima amanah Ketua Kibar. (Doc. Trigo Neo Starden)
Southampton tanggal 17 April 2011 menjadi momen terakhirku mengemban amanah sebagai Ketua KIBAR (Keluarga Islam Indonesia Britania Raya. Hal itu ditandai dengan suksesnya kegiatan Kibar Spring Gathering, 16-17 April 2011 di Southampton dan terpilihnya secara aklamasi Bapak Dr. Abram Perdana sebagai Ketua Kibar yang baru. Terhitung sejak tanggal 4 April 2010 sampai kemaren 17 April 2011, telah lebih satu tahun Pengurus Kibar 2010-2011 mengemban amanah menjalankan misi-misi Keluarga Islam Indonesia di Britania Raya. Banyak program telah direncanakan dan telah direalisasikan, namun banyak juga yang dalam perjalanannya tidak semulus yang direncanakan.


Aku sangat terharu dan bangga, karena walaupun lelah mendera, namun teman-teman tidak patah semangat. Semua bahu membahu mewujudkan misi-misi yang sudah ditetapkan. Tidak hanya pengurus, bahkan semua warga/sahabat KIBAR secara ikhlas membantu kelancaran pelaksanaan kegiatan-kegiatan yang dirancang. Suasana keakraban dalam suasana ukhuwah Islamiyah benar-benar sangat terasa. Apalagi ketika momen temu akbar dua kali setahun Kibar Gathering, seluruh sahabat Kibar dari berbagai kota di UK datang berkumpul bersama, bersilaturrahim sambil menuntut ilmu. Sungguh luar biasa. Pembiayaan untuk kegiatan ini ditanggung secara bersama tanpa kecuali, baik panitia, pengurus maupun anggota pengajian lokal dan donatur, semua secara sukarela urunan memberikan sumbangan demi terwujudnya kegiatan. Ada yang menyumbangkan paket makan siang/malam, paket makanan ringan, minuman dan buah-buahan. Semoga Allah SWT membalas segala amal yang telah dilakukan ini dengan sebaik-baik balasan, baik kebaikan di dunia dan terlebih lagi kebaikan di akhirat nanti berupa syurga-Nya.


Memang, selama Periode Kepengurusan ini, masih banyak amanah/harapan/aspirasi yang belum mampu dijalankan, belum sempurna dalam pelaksanaan, khilaf dalam penafsiran ataupun berbagai kekurangan lainnya. Oleh karena itu, sebagai manusia biasa, hanya kata maaf yang terucap, semoga semua pihak sudi memaafkan segala kesalahan, kekurangan dan kekhilafan tersebut dan sebagai Hamba Allah, kepada-Nya kumohon ampunan.


Bapak Dr. Abram Perdana, Selamat Menjalankan Amanah sebagai Ketua Kibar minimal dalam satu tahun kedepan. Aku yakin Bapak dan seluruh jajaran Pengurus yang terbentuk nantinya bisa berbuat lebih banyak dan lebih baik lagi dari kami. Doa ku menyertai Bapak. Semoga Allah memberikan kemudahan dan memberikan petunjuk-Nya kepada kita semua.

Wassalam

Saturday, 2 April 2011

Menit demi menit menuju London

Jarum jam sudah menunjukkan jam 06.08 BST. Berarti sudah 8 menit aku berada di Eastcoast train ini menuju London. Ya, hari ini aku memenuhi undangan Ketua Muhammadiyah Cabang Istimewa UK untuk menghadiri acara Baitul Arqom yang merupakan salah satu kegiatan rutin dalam meng-upgrade pemahaman warga Muhammadiyah.

Kereta pagi ini masih terbilang kosong. Hanya beberapa kursi saja yang terisi. Beberapa bangku sudah dipasangi kartu pertanda bahwa kursi tersebut sudah dipesan. Aku memilih duduk di kursi yang ada mejanya supaya aku bisa lebih leluasa menggunakan computer. Selain mudah menempatkan computer, di meja juga tersedia colokan listrik untuk men-re-charge HP dan Laptop.

06.15 BST.
Kota Durham baru saja terlewati. Beberapa saat yang lalu seorang juru tiket memeriksa tiket penumpang. Tiketku adalah open ticket yang kupesan dengan menyertakan student railcard. Biasanya juru tiket juga memeriksa railcard penumpang jika tiket yang digunakannya menyertakan railcard. Mungkin karena dia mempercayaiku, dia tidak meminta ku menunjukkan railcard.

Sekedar catatn, open tiket berarti bisa berangkat kapan saja dan memilih rute mana saja dalam satu bulan kedepan dan hanya berlaku untuk sekali perjalanan bolak balik. Sedangkan railcard adalah sebuah kartu yang dapat digunakan untuk mendapatkan diskon harga sampai 30% harga standard. Ada beberapa jenis railcard yang disediakan oleh National Rail Service di UK ini yaitu: untuk yang berumur 16-25 atau mahasiswa penuh waktu tersedia 16-25 year old/full student railcard, untuk keluarga tersedia family railcard yang bias menanggung maksimum  4 dewasa dan 4 anak-anak, untuk orang tua dan pensiunan tersedia senior railcard, dan berbagai macam jenis railcard lainnya termasuk untuk penyandang cacat. 

Pengalaman berbeda dialami oleh sekelompok pemuda berwajah Asia yang duduk beberapa blok dibelakangku. Mereka diminta menunjukkan tiket beserta railcard, namun ternyata tidak ada railcard yang bisa mereka tunjukkan. Akhirnya mereka diminta untuk membeli lagi tiket baru seharga tiket tanpa railcard yang tentu saja jauh lebih mahal, apalagi dibeli pada hari keberangkatan. Biasanya haga tiket satu bulan sebelum keberangkatan jauh lebih rendah daripada harga tiket pada hari keberangkatan. Para pemuda dan pemudi tersebut akhirnya terpaksa membayar penuh.

Entah kenapa, aku merasa kurang sreg dengan tingkah laku mereka sejak pertama naik tadi. Mereka berbicara dengan suara sangat keras tanpa menghiruakan penumpang lain. Mereka sepertinya sedang memainkan permaianan kartu. Kata-kata umpatan dan jorok sering keluar dari mulut mereka tanpa risih. Mencermati kelakuan mereka, saya pikir wajar kalau kemudian kemudian muncul sentiment warga asli meningkat. 

Jarum jam sudah menunjukan 06.45. Baru saja lewat seorang petugas dengan troli menawarkan makanan ringan dan minuman. Berdasarkan riset kepuasan pelanggan, salah satu yang disukai oleh penumpang adalah tersedianya buffet makanan di gerbong kereta atau minimal troli tersebut. Umumnya penumpang membeli kopi panas sebagai teman perjalanan. Meskipun harganya cukup mahal jika dibandingkan dengan diluar, para penumpang tetap memesan.

Aku pernah punya pengalaman lucu pada musim winter lalu. Saat itu aku sedang dalam perjalanan ke London. Karena merasa haus, aku memesan sebotol air putih ke petugas tersebut. Setelah memberikan sebotol air mineral, dia bertanya sesuatu yang sulit sekali kupahami. Barangkali dia menggunakan dialeg dari daerah Wales atau Scothland. Melihat dia memegang gelas, aku pikir dia menawarkan untuk menggunakan gelas maka kujawab denga ‘yes’. Beberapa saat kemudian sebuah gelas berisi batu es telah terletak dimeja depan tempat dudukku. Ooo, ternyata dia menawarkan es batu, hehehe. Semoga es batu ini bukan berasal dari tumpukan salju diluar sana pikirku. Agar tidak terlihat tidak menghargai, maka kupaksakan juga memasukkan sedikit air tadi kedalam gelas penuh batu es tersebut dan kusedot  beberapa teguk. Setelah itu, tak pernah kusentuh lagi.

06.55 BST.
Luar biasa, tak terasa telah hampir satu jam aku didalam kereta ini. Konon kabarnya memang dengan melakukan aktifitas tertentu, perjalanan menggunakan kereta ini menjadi lebih bermanfaat. Sebuah penelitian oleh psikolog mengenai tipe-tipe personal mampu menjelaskan hal ini. Menurutnya personality itu ada dua yaitu polychronic dan monochronic. Polychronic berarti orang yang memiliki kecenderungan untuk menyukai melakukan banyak pekerjaan sekaligus pada selang waktu tertentu (multitasking) sedangkan monochromic person adalah orang yang cenderung menyelesaikan setiap tugas satu persatu. Jika ditotalkan jumlah waktu yang digunakan untuk tiap aktifitas oleh orang polychronic ini, bisa dikatakan dia seperti mempunyai waktu 30 jam sehari atau 45% lebih banyak daripada orang yang monochronic. Salah satu yang menonjol dari orang polychronic adalah dia cenderung untuk menggunakan waktu selama perjalanan dengan melakukan berbagai tugas baik menyangkut pekerjaan maupun sekedar kegiatan pengisi waktu. Apakah dengan menuliskan pengalaman perjalanan ini menunjukkan bahwa aku juga termasuk polychronic? Wallahualam.

Kereta baru saja melewati York. Sebuah Kota Tua yang merupakan benteng terkuat para Royalist selama English Civil War. Beberapa penumpang naik dan mencari-cari bangku kosong ataupun bangku pesanan mereka. Karena mejaku yang terdiri dari empat bangku masih menyisakan tiga bangku kosong, seorang ibu dan anak gadisnya meminta ijinku untuk mendudukinya. Kulihat mereka cukup bersahabat dan memakai buasana Muslimah. Ketika kutanya asal mereka dan apakah mereka Muslim. Anak gadisnya menjawab kalau mereka memang muslim dan berasal dari campuran beberapa nasionaliti. Ibunya berasal dari Philipina dan China sedangkan bapaknya berasal dari Inggris dan Afghanistan. Sarah demikian nama gadis tersebut menjelaskan bahwa dia sedang menempuh A level (salah satu persyaratan untuk melanjutkan ketingkat perguruan tinggi) dan hendak melanjutkan ke fakultas kedokteran di salah satu Universitas terkemuka London.

Satu keluarga bule duduk di meja sebelah mejaku. Mereka naik bersamaan dengan teman dudukku. Anak asyik membaca-baca majalah anak, bapaknya membaca Koran dewasa. Anak satunya lagi sibuk memainkan mainan kamera-kameraan. Ibunya duduk memperhatikan kebutuhan anak-anaknya, termasuk snack. Satu gelas minuman coklat panas terletak dimeja mereka. Sebuah keluarga yang menyenangkan sepertinya.

07.15 BST.
Kembali petugas tiket memeriksa tiket penumpang yang berasal dari York atau Darlington. Barangkali dia bisa mengenali penumpang yang baru naik sehingga dia hanya nmemeriksa penumpang yang baru tersebut saja. Ketika memeriksa tiket Sarah dan Ibunya, terjadi dialog singkat yang berakhir dengan kata-kata memahami dari mulut petugas tiket. Rupanya mereka harusnya naik kereta setengah jam lebih awal dari kereta yang ku tumpangi ini, dan mereka beralasan taksinya salah jalan sehingga terlambat sampai di stasiun. Kemudian Sarah sibuk memainkan sebuah game di iPhone 3GS nya. Si Ibu entah kenapa lebih memilih pindah ke bangku belakang.






07.23 BST.
Hamparan lahan pertanian menghijau dikiri kanan rel kereta. Petani di sini umumnya kaya raya. Untuk mengolah lahannya mereka umumnya menggunakan mesin sendiri dan untuk menyiram atau memberi pupuk mereka menggunakan pesawat terbang jenis capung. Jangan kira mereka punya pendidikan rendah. Salah satu teman sesama mahasiswa PhD-ku merupakan seorang petani dan tinggal cukup jauh dari kampus. Dia melanjutkan PhD supaya bisa memanfaatkan ilmunya tersebut untuk memajukan hasil pertaniannya. Luar biasa.

07.27 BST.
Kereta memasuki stasiun Doncaster. Sebuah suara melalui microphone meminta perhatian petugas kereta bahwa seorang penyandang cacat akan naik kereta dan butuh bantuan. Beberapa penumpang naik dan mencari lokasi tempat duduk yang mereka pesan. Setelah berhenti selama 3 menit, kereta kembali melanjutkan perjalanan.
Battery laptopku sudah minta untuk di recharge. Akupun mengeluarkan charger dan mencolokkannya kecolokan di bawah meja. Bapak di meja sebelah beranjak mengantar anaknya ke toilet. Tak lama kemudian merekapun kembali dan kembali sibuk dengan majalah anak-anak. Si Bapak duduk dengan anak laki-lakinya dan membacakan cerita yang tertulis di majalah tersebut ke anaknya. Sedangkan si ibu membimbing anak perempuannya untuk mewarnai lukisan di majalah tersebut.

07.35 BST.
Kembali petugas tiket memeriksa penumpang yang naik dari Doncaster. Namun kebetulan disekitarku tidak ada penumpang yang naik di Doncaster.

07.45 BST.
Kembali troli melewati bangkuku. Si gadis berkerudung masih sibuk dg permaiinannya sedangkan keluarga disebelah masih sibuk dengan kegiatan seperti biasanya. Ibu si gadis memesan sejenis makanan.
Matahari mulai menunjukkan diri. Sinarnyanya yang menembus jendela cukup menyilaukan. Meskipun awalnya sebagian tertutup  oleh awan hitam, namun beberapa saat kemudian, awan hitam itupun menghilang.

07.57 BST.
Aku sudah mulai bosan menulis J Capek juga dan nggak ada bahan lagi untuk ditulis. Semua kegiatan sepertinya hanyalah perulangan dari kegaitan-kegiatan sebelumnya.

08.04 BST.
Daripada bingung aku mulai berpikir tentang risetku di kampus. Secara proposal dan kemajuan sebenarnya sudah cukup baik dan termasuk yang tercepat di group ku. Kebetulan risetku mengharuskan aku mewawancarai penumpang kereta di atas kereta dalam perjalanan dari London-Edinburgh. Saat ini aku terpaksa bersabar dulu menunggu ijin dari operator kereta yang belum juga turun. Tepatnya belum juga ketemu dengan orang yang bertanggungjawab memberikan ijin tersebut. Peluang terbuka yang paling mungkin saat ini adalah sekitar tgl 21 April nanti dimana melalui mediasi dari group pengguna kereta kami akan bertemu dengan salah seorang manager di perusahaan kereta ini. Mudah-mudahan usaha tersebut berhasil.
Pikiranku melayang ke Kibar Spring Gathering yang akan dilaksanakan di Southampton dalam waktu dekat ini. Kegaiatan ini merupakan kegiatan dua kali setahun yang diselenggarakan oleh Kibar (Keluarga Islam Indonesia di Britani Raya). Sebagai Ketua, tentunya tanggung jawab terbesar berada ditanganku untuk mensukseskan kegiatan ini. Seorang Ustadz terkenal dari Jakarta akan diundang sebagai pembicara utama didampingi oleh dua orang aktifis dakwah UK dari London. Kegiatan ini insyaAllah akan dibuka oleh Bapak Duta Besar Indonesia untuk Inggris dan Irlandia.

08.13 BST.
Eh..Si Gadis tadi sudah berhenti memainkan iPhone nya. Apakah karena batterynya habis? Entahlah. Dia sekarang sibuk membersihkan kacamatanya. Mungkin juga karena matanya lelah setelah beberapa waktu sibuk melihat layar yang kecil tersebut. Si Bapak dan anak disamping tidak terlihat. Barangkali saat aku sibuk menulis tadi dia ke belakang lagi untuk kedua kalinya mengantar anak laki-lakinya.

Wah ternyata bukan kacamata biasa yang sedang dibersihkan oleh Sarah tadi, melainkan kacamata hitam hehehe. Sangat pekat. Setelah bersih kemudian kacamata tersebut dipakainya dan kemudian terlihat dia mulai mengambil posisi tidur.

Dalam perjalanan seperti ini, aku teringat kampung halamanku yang jauh disana. Siapa sangka akhirnya aku bisa juga memenuhi keinginanku untuk pergi jauh ke bumi Pangeran Charles ini. Teringat jelas pengalaman bagaimana aku berjuang dalam melamar berbagai universitas luar negeri dan mengikuti berbagai wawancara. Walaupun belum berhasil namun aku masih tetap bersemangat dan sampai akhirnya sebuah offer letter dari Imperial College London sampai di tanganku. Imperial merupakan universitas terkemuka di UK. Menyusul juga kemudian beberapa offer letter dari berbagai universitas di Inggris, Australia dan Malaysia. Perjuangan dilanjutkan dengan mencari beasiswa yang akhirnya kuperoleh dari Dikti. Dengan berbagai pertimbangan, termasuk jumlah beasiswa yang relative kecil untuk biaya hidup di London, aku memutuskan untuk melanjutkan study ke Newcastle University.

Perjuangan membawa keluarga ke UK ternyata lebih berat lagi. Bayangkan, untuk mendapatkan Visa UK, tiap orang yang hendak dibawa kita mesti menyediakan dana di rekening sebanyak lebih kurang 65 juta rupiah untuk kurs ketika itu. Karena aku punya dua anak, maka total jumlah dana yang harus kusediakan hampir 200 juta rupiah. Untuk orang sepertiku uang sebanyak itu bukanlah angka yang kecil meskipun dengan mengerahkan berbagai pinjaman dari sanak family. Alhamdulillah Allah memberikan kemudahan. Dengan sedikit siasat, akhirnya aku bisa membawa keluarga. Hmm…sayangnya pagi ini mereka tidak ikut bersamaku menempuh perjalanan ke London ini.

08.26 BST.
Kereta baru saja melewati Peterborough. Di stasiun tadi beberapa orang kembali naik dan sebagiannya turun. Petugas kembali memeriksa tiket penumpang. Sarah meninggalkan tempat duduknya, barangkali menuju toilet dengan meninggalkan tasnya. Apa dia tidak khawatir ya? Walaupun dia bersama ibunya, ibunya duduk dibelakang dan tidak akan tahu kalau aku memeriksa isi tasnya. Tasnya dan tas ibunya ditempatkan di bangku sekitar mejaku.
Anak-anak dimeja sebelah memasukkan potongan roti terakhir kemulutnya. Si Bapak mengeluarkan batu domino untuk dimainkan bersama. Lucu juga anak sekecil itu sudah diajak main domino. Si ibu membantu anak gadisnya sedangkan si Bapak membantu anak laki-laki ketika giliran mereka tiba. Perkiraanku usia anak-anak tersebut masih sekitar 2-3 tahun.

08.34 BST.
Akh lumayan juga. Walaupun capek, cukup banyak juga kerja yang kulakukan selama perjalanan ini. Beberapa e-mail yang selama ini tidak pernah ku buka, ku baca, sebagian yang membutuhkan balasan kubalas. Aku juga sempat mengunjungi situs jarring social yang kuikuti dan mengupdate status di jarring social dan menulis. Karena saat ini sedang ramai-ramainya April moop atau April fool, maka aku tulis status terkait hal tersebut. AKu heran, kenapa banyak orang yang mau berbohong hanya demi merayakan April moop?

08.40 BST.
Baru saja sebuah email ku kirim lewat iPhone ku... Aku mencoba mengalihkan perhatianku ke luar. Diluar sana terlihat sebuah telaga. Beberapa orang dengan payung terkembang sedang asyik memancing. Mereka menggunakan peralatan yang standard bagi mancing mania. Barangkali mereka adalah orang yang hobby memancing. Konon kabarnya untuk memancing ikan di sini diperlukan ijin. Di Telaga Leazis Park, saya pernah melihat seorang pemancing dengan 8 set pancing yang dipasang sekaligus. Ketika dia berhasil mendapatkan ikan besar (sekitar 10 kg), ikan tersebut ditimbangnya dan kemudian dilepaskan lagi. Hmm…apa tidak buang-buang waku yah. Padahal untuk bisa mendapatkan satu ekor ikan itu mungkin dia butuh berjam-jam bahkan berhari-hari.

08.45 BST.
Teman dudukku sepertinya sudah mulai mengantuk. Dia tadi sempat mengeluarkan bunyi ngorok. Sesekali dia menghirup nafas dalam. Barangkali karena sedang terserang flu, dia seperti kesulitan untuk bernafas.
Seorang Bapak berpakaian necis berdasi, sweeter dan rompi duduk dibelakang keluarga di meja sebelahku. Di lengan bajunya terdapat sebuah logo yang sangat terkenal di London yaitu logo Underground, kereta bawah tanah di London yang melayani perjalanan dalam kota. Untuk menggunakan jasa kereta tersebut, penumpang diharuskan untuk membeli tiket di loket yang tersedia. Tiket tersebut harus ditempelkan ke sensor magnetic disetiap pintu masuk dan keluar stasiun. Biaya penggunaan kereta tersebut otomatis dipotong setiapkali tiket tadi digesekkan. London juga menyediakan kartu Oyster yaitu kartu isi ulang yang digunakan sebagai pengganti tiket. Jangan coba-coba masuk ke stasiun jika tidak memiliki tiket atau simpanan dana di tiket kurang dari jumlah yang harus dibayar. Pintu tidak akan terbuka.
Aku pernah dulu membeli tiket one-day untuk Underground ini. Kemudian berkeliling ke berbagai tempat di sana. Salah seorang temanku di Wimbledon mengajakku untuk mampir kerumahnya. Ketika hendak keluar stasiun, aku tertahan dan pintu tidak mau membuka. Aku datangi petugas dan ternyata menurut petugas, tiketku hanya berlaku untuk zona 1 dan zona 2 sedangkan tempat yang kutuju sudah berada diluar zona tersebut dan aku diminta untuk membeli dulu tiket tambahan yang sesuai dengan zona tersebut.

08.56 BST.
Teman dudukku menelpon seseorang. Sepertinya dia masih kesal dengan sopir taksi yang membawa dia ke stasiun yang tidak tahu arah sehingga terlambat masuk kereta. Untungnya tadi petugas kereta memahaminya dan dia dibolehkan terus. Ingat kejadian ini, aku jadi ingat seorang politisi di negeriku yang konon naik pesawat yang tidak sesuai dengan jadwal yang ada di tiketnya.

09.01 BST.
Kereta memasuki sebuah terowongan yang cukup panjang. Gelap dan telingaku seperti mengalami sebuah tekanan. Entah kenapa.
Si Bapak mengeluarkan alat multiguna dan membuka gunting pada alat tersebut dan si anak menjerit. Ternyata si bapak bermaksud menggunting kuku si anak yang terlihat cukup panjang. Dengan sedikit pendekatan, akhirnya sianak bersedia dan begitu selesai, ucapan weldone terdengar serentak dari kedua orang tuanya. Ucapan weldone ini sudah berkali-kali dari tadi kudengar. Hampir setiap tindakan si anak yang dianggap berhasil, dia mendapat penghargaan demikian dari orang tuanya.

09.05 BST.
Sepertinya keretea sudah mendekati stasiun King’s Cross London. Beberapa penumpang bersiap-siap. Suara di microphone memastikan bahwa dalam beberapa saat, kereta segera memasuki stasiun Kings Cross, stasiun tujuan perjalananku. Dua menit kemudian, setelah melewati sebuah terowongan panjang, kereta inipun berhenti. AKupun segera mengemasi barang bawaanku untuk kemudian keluar kereta menuju stasiun Underground. Perjalananpun dilanjutkan. (Ritzal405).

Bapak Yuri Thamrin Yang Ku Kenal

Penulis bersama Bapak Yuri Thamrin

Sebetulnya perkenalanku dengan beliau belumlah lama. Belum genap setahun. Aku mengenal beliau pertamakali pada saat diadakan pertemuan silaturrahim antara penerima beasiswa Dikti di UK dengan Duta Besar dan Atase Pendidikan KBRI London  di Sheffield. Saat itu Atdik dijabat oleh Bapak Riza Sihbudi dan aku baru saja diamanahi sebagai Ketua KIBAR.
Kesan pertama yang kutangkap dari beliau adalah keramahannya. Begitu memasuki ruangan acara, beliau terlihat terus tersenyum, menyapa dan menyalami setiap orang yang beliau lewati. Saat itu aku duduk dibagian depan. Beliau menghampiriku dan kamipun bersalaman sambil saling sapa. Seorang senior ku dari USU mengenalkanku sebagai Ketua Kibar kepada beliau dan kamipun terlibat obrolan ringan.
Selesai acara pertemuan, aku berusaha menemui beliau untuk sekedar menyapa karena selama di ruangan tadi tidak dimungkinkan untuk itu. Sebagai Ketua Kibar yang baru sudah seharusnya aku kembali mengenalkan diri dan rencana-rencana yang akan aku lakukan sebegai Ketua Kibar. Beberapa kali beliau mengajukan pertanyaan seputar diriku termasuk asal institusi dan tinggal di kota mana di UK. Ketika sampai pada pertanyaan asalku, akupun menjawab bahwa aku berasal dari Solok, bekerja di Padang, namun sebelum berangkat sempat tinggal di Payakumbuh selama beberapa tahun. Beliau sedikit terkejut dan menyebutkan bahwa beliau juga berasal dari Payakumbuh. Beliaupun menyebutkan nama Ayahnda beliau yang tentu saja sangat ku kenal karena Ayahnda beliau adalah salah satu tokoh besar di Payakumbuh yang sangat aktif dalam menjalankan kegiatan social dalam berbagai organisasi, salah satunya adalah Rumah Sakit YARSI Payakumbuh tempat istriku sempat bekerja sebagai Dokter Umum PTT selama tiga tahun.
Pertemuan kami berikutnya adalah ketika Pengurus Kibar yang baru terbentuk melakukan silaturrahim ke KBRI guna mengenalkan susunan pengurus baru serta program-programnya. Sebuah dokumen profil dan program kerja Kibarpun diserahkan kepada beliau. Dalam pertemuan tersebut, Bapak Yuri Thamrin menyambut kami dengan wajah yang cerah dan sangat bersahabat. Jauh berbeda dari banyak pejabat yang sebelumnya pernah ku kenal. Dialog kekeluargaanpun mengalir dalam pertemuan tersebut dan diakhiri dengan sesi foto bersama. Tak lupa sebelum pulang beliau mengucapkan terimakasih kepada pengurus Kibar yang telah berusaha membina warga Indonesia di UK yang menurut beliau ikut membantu kelancaran tugas beliau.
Pertemuan berikutnya terjadi dalam sebuah acara seminar yang diadakan oleh PIP PKS UK di London. Hadir dalam seminar tersebut beberapa anggota Dewan Pengurus Pusat PKS, Walikota Towerhamlet dan beberapa anggota House of Lord UK. Aku kebetulan diundang mewakili Kibar sedangkan beliau diundang untuk memberikan kata sambutan dan membuka acara seminar secara resmi. Ketika aku memasuki ruangan acara, kulihat beliau sudah duduk diantara panitia dan Pengurus Pusat PKS. Aku melihat beliau dan tersenyum. Namun karena sungkan oleh sebab orang-orang yang duduk disekeliling meja tersebut adalah para pejabat, aku memilih berlalu dan bermaksud mencari bangku sedikit dibelakang, tempat beberapa mahasiswa yang kukenal duduk bercengkerama.
Tak kusangka beliau memanggilku dan mengajakku duduk dekat beliau dan mengenalkanku pada para petinggi PKS yang hadir. Kemudian beliaupun menunjukkan perhatiannya dengan menanyakan studyku serta kegiatan Kibar yang kujawab apa adanya. Tak lupa secara informal aku mengundang beliau untuk datang pada Kibar Spring gathering yang akan dilaksanakan di Southampton dan beliaupun menyanggupi dengan catatan tidak ada agenda yang lebih penting.
Pertemuan terakhir adalah tadi siang ketika aku menghadiri Baitul Arqom Muhammadiyah di London atas undangan Pengurus Muhammadiyah Cabang Istimewa UK. Tak kusangka dalam sambutannya beliau tiba-tiba menyebut namaku dan mengenalkanku kepada para hadirin. Padahal seingatku, saat beliau memasuki ruangan beliau tidak menoleh kepadaku dan ketika beliau memberi sambutan, aku duduk dibarisan bangku paling belakang.
Pada saat jam istirahat, kembali beliau menyapaku dan menanyakan berbagai hal mulai dari masalah pribadi seperti studi sampai ke kegiatan Kibar. Beliau juga sempat menceritakan bahwa beliau baru saja dari Kota Payakumbuh untuk menjumpai Ayahnda beliau yang katanya sudah mulai sakit-sakitan, barangkali karena usia yang sudah cukup lanjut. Setahuku, meskipun Bapak Thamrin Manan sudah tua, namun tidak menghambat beliau untuk terus berkarya dan memberdayakan masyarakat melalui lembaga-lembaga yang beliau bina. Dalam hati, akupun mendoakan semoga beliau diberi kesembuhan oleh Allah sehingga tetap terus dapat beraktifitas di masyarakat.
Sungguh aku merasa beruntung bisa mengenal Bapak Yuri Thamrin. Terlepas dari kekurangannya sebagai manusia biasa, ada banyak hal yang bisa kupelajari dari beliau, mulai dari sikap ramah dan luwesnya, daya ingatnya terhadap orang-orang yang pernah beliau kenal dan lembutnya tutur bahasa beliau. Wejangan-wejangan yang beliau sampaikan sangat aplikatif dan bermanfaat. Sedih juga mendengar kabar angin bahwa beliau akan segera mengakhiri masa pengabdian beliau sebagai Duta Besar RI untuk Inggris dan Irlandia. Semoga Allah membalas segala jasa baiknya bagi ummat, bangsa dan negara. Semoga Allah memberikan kebaikan kepada beliau sehingga beliaupun tetap dapat berkhidmat untuk bangsa ini diposisi manapun beliau ditempatkan selepas ini. (Ritzal405)


Saturday, 26 March 2011

Belajar Kearifan dari Seorang Sopir Bus Kota


Menurut perkiraanku, dia sudah berusia sekitar 50-an. Dia selalu tersenyum dan menjawab setiap kali penumpang yang turun mengucapkan “thank you” kepadanya. Ketika dia melihat ada penumpang yang membawa barang berat, orang tua atau boogie bayi, serta merta dia menurunkan bagian depan bus sehingga mempermudah penumpang tersebut naik/turun. Begitulah Sang Sopir bus yang kutumpangi ini menikmati pekerjaan rutinnya dalam melayani penumpang. Barangkali karena memang sudah tugasnya, dia terlihat melakukannya dengan tanpa beban. Mungkin dia merasa jika tidak berlaku demikian bisa-bisa dia sudah dilaporkan dan dipecat dari pekerjaannya. Terlepas dari itu semua, menurutku sopir ini biasa saja, sama seperti sopir-sopir lainnya yang sedang melakukan tugas.

Namun rangkaian kejadian siang tadi membuat aku mengakui kearifan sopir bus yang kutumpangi. Kejadian pertama adalah di sebuah perhentian bus. Waktu itu serombongan anak muda telah memencet bel untuk memberitahu sopir bahwa mereka akan turun di perhentian di depan. Sang Sopirpun menepikan kendaraannya dan membukakan pintu. Anak-anak muda itupun satu per satu turun sambil mengucapkan “thank you” yang dijawab oleh Sang Sopir “no problem”. Namun begitu sampai ke anak terakhir, dia mengucapkan “thank you...f*ck you” dan disambut oleh tawa teman-temannya. Ingin tahu reaksi Sang Sopir, saya pun memandang kearah si sopir. Ternyata Sang Sopir tetap tenang seolah tidak terjadi apa-apa. Menyadari saya sedang melihat kearahnya, Sang Sopirpun tersenyum sambil menggelengkan kepala. Tidak kelihatan raut muka kesal ataupun marah dengan kejadian tersebut.

Setelah itu bus kembali meneruskan perjalanan. Akupun kembali asyik membaca e-mail dan berita-berita menarik lewat smartphoneku. Aku heran karena tiba-tiba bus kembali berhenti padahal  belum sampai ke perhentian berikutnya. Ternyata ada sebuah truk besar yang parkir di tengah jalan sambil membongkar muatan. Sebuah bus yang dikemudikan seorang perempuan paruh baya mencoba melewati truk tersebut namun terjepit antara truk dan kendaraan yang parkir di pinggir jalan. Hal ini menimbulkan antrian kendaraan pada kedua arah jalan dua lajur dua arah ini. Herannya tak satupun dari sopir kendaraan yang antri tersebut yang membunyikan klakson ataupun ngoceh dan berteriak-teriak. Padahal semua tahu bahwa penyebab kemacetan ini adalah karena sopir truk yang menghentikan kendaraannya di tengah jalan sambil membongkar muatan. Sopir yang kutumpangipun juga tidak mengeluarkan omelan sama sekali. Tetap tenang dan dengan sabar menunggu truk tersebut bergerak lebih menepi. Kru truk pun baru menepikan kendaraannya setelah pekerjaan bongkar muatnya selesai.

Kejadian berikutnya lebih seru lagi bahkan sampai beberapa penumpang mengeluarkan omelan. Dalam sebuah iring-iringan kendaraan berkecepatan sedang, sebuah sedan yang berada di depan bus memberi aba-aba akan menepi ke kiri. Sialnya, ternyata sedan tersebut bukannya menepi melainkan menghentikan kendaraannya secara mendadak ditengah jalan. Untuk menghindari tabrakan, sopir bus kamipun terpaksa menginjak rem secara mendadak. Beberapa penumpang sempat terhuyung kedepan dan berteriak sambil mengomeli sopir sedan yang berhenti mendadak di depan bus. Namun sopir bus kami tetap santai dan tidak mengeluarkan omelan sama sekali. Ketika dia menyadari aku sedang memperhatikan dia, diapun tersenyum sambil kembali menggelengkan kepalanya.

Entah apa makna gelengan kepalanya, tapi cukup menggambarkan bahwa sebenarnya dia juga tidak senang dengan kondisi yang dihadapinya. Yang menarik adalah sikap dia yang tidak mengeluarkan omelan atau meladeni kejadian-kejadian yang memprovokasinya. Barangkali dia berpikir bahwa orang yang bermartabat tidak seharusnya meladeni dan menunjukkan emosi secara berlebihan dan meladeni orang-orang tersebut. Jika dia meladeni mereka, maka dia pun tak ubahnya seperti mereka. Entah benar begitu yang dipikirkan Sang Sopir entah bukan. Satu hal yang pasti, sikap Sang Sopir yang tidak merespon tersebut menimbulkan simpatiku padanya. Aku tidak dapat membayangkan jika hal tersebut terjadi di kampung halamanku. Barangkali umpatan dan caci maki yang berhamburan. Lebih ganas lagi jika terdapat perlawanan dari kedua belah pihak, maka perkelahianpun tak terhindarkan. Namun dengan diamnya Sang Sopir, dia terlihat lebih berwibawa dan semua orang tahu bahwa dia memang tidak bersalah. Para penumpangpun menggelengkan kepala akan kelakuan anak muda, kru truk dan sopir sedan tadi.

Alhamdulillah ya Allah, Engkau telah memberikan sebuah pelajaran berharga dalam perjalananku siang ini.

Newcastle upon Tyne, 25 Maret 2011

Tuesday, 4 January 2011

Memanusiawikan Layanan Angkutan Umum Kita

Newcastle upon Tyne, 29 Desember 2010, sebuah kejadian menarik antara seorang sopir bus dengan calon penumpang beberapa hari yang lalu menyita perhatian saya. 

Saat itu saya bermaksud hendak pulang ke rumah setelah seharian berkutat di kampus. Meskipun jarum jam baru menunjukkan pukul 17.15 GMT, namun suasana sudah gelap. 
 
Maklumlah, di musim dingin ini mentari tenggelam lebih awal yakni sekitar pukul 15.30 GMT. Saya memilih menunggu bus di halte khusus bus rute 39 dan 40 karena selain memiliki rute paling dekat ke rumah, frekuensi kedatangan bus ini lebih sering dibandingkan bus lainnya.

Seperti biasa, saya ikut mengantri dibelakang para calon penumpang. Beberapa saat berikutnya ikut bergabung beberapa calon penumpang lainnya dibelakang saya. 

Salah satunya adalah seorang penyandang cacat yang menggunakan kursi roda (bermesin). Begitu bus datang, secara teratur satu persatu penumpang menaiki bus. Karena jarak rumah tidak terlalu jauh, saya memilih duduk di bangku bagian depan yang kebetulan masih kosong. 

Ketika tiba giliran si penyandang cacat, sopir bus pun menurunkan bagian depan bus dengan harapan pengguna kursi roda tersebut dapat naik dengan mudah. Namun si calon penumpang tersebut menolak untuk naik dan meminta sopir menyediakan ramp atau bidang miring yang landai untuk naik ke bus.

Si sopir mencoba membujuk calon penumpang tadi dengan meminta bantuan penumpang dibelakangnya untuk membantu mengangkat kursi roda tersebut, agar bisa masuk dengan mudah ke bus. 

Lagi-lagi si calon penumpang menolak dan tetap meminta si sopir untuk menyediakan ramp untuk naik. Sepertinya sopir yang satu ini sedang tidak mood untuk membantu, maka dia minta si penyandang cacat untuk naik bus yang dibelakangnya dengan alasan dia tidak punya ramp. 

Jawaban ini tentu saja mengada-ada, karena tiap bus sudah dilengkapi dengan alat tersebut, dan si calon penumpang tahu itu. Diapun memaksa si sopir untuk mengambil ramp tersebut di box yang terletak di bagian tengah bus.

Akhirnya si sopir pun turun dari kursinya dan mengambil ramp. Ketika hendak memasang ramp, si sopir pun kembali ngeyel meminta penumpang itu untuk mau masuk dengan dibantu. Dia beralasan bahwa dia tidak bisa memasang ramp. 

Dengan sedikit kesal, si calon penumpangpun memerintahkan si sopir untuk bekerja dengan baik sesuai tugasnya dan mengambil bagian kunci untuk ramp di box dalam bus yang memang sengaja ditinggalkan oleh si sopir. Kemudian si calon penumpang mendiktekan apa yang harus dilakukan oleh si sopir. 

Si sopir pun mengikuti apa yang diperintahkan oleh si calon penumpang sampai akhirnya ramp terpasang sempurna dan sipenyandang cacatpun dapat masuk tanpa bantuan orang lain dan kemudian memposisikan kursi rodanya di ruang khusus kursi roda di dalam bus. 

Entah pura-pura atau memang belum pernah, si sopir terlihat bingung ketika hendak melipat kembali ramp yang tadi dipasang. Barulah setelah diberi tahu oleh si penyandang cacat, si sopir dapat melipat ramp tadi dengan sempurna kembali. 

Tak lupa si penyandang cacat mengucapkan terimakasih atas bantuan si sopir. Dari ekspresinya kelihatan kalau si sopir agak jengkel dengan penumpang ini, namun dia tetap berusaha menunjukkan muka ramah. Tak urung kata-kata keluhan keluar juga dari mulut si sopir ketika hendak meletakkan kembali ramp tersebut karena dia tahu persis bahwa tidak lama lagi dia harus mengambil dan memasang kembali ramp tersebut ketika si penumpang akan turun.

Lama saya tercenung mengingat peristiwa barusan. Begitu kuatnya posisi calon penumpang sehingga si sopir tidak bisa tidak mesti melayani sesuai dengan kebutuhan penumpang tadi. Jika si sopir tidak melayani dengan baik, pastilah si penumpang akan melaporkan kejadiannya ke perusahaan bus dan si sopir pun harus siap menerima sangsi.

Ingatan saya pun melayang ke kampung halaman. Terbayang betapa buruknya layanan angkutan umum kita terhadap penumpangnya, mulai dari sikap dan perlakuan sopir dan kondektur yang kurang menghargai penumpang, kondisi kendaraan yang jauh dari nyaman, sikap penumpang yang tidak tertib dan kurang menghargai penumpang lainnya, sampai kepada tidak adanya kepastian jadwal. 

Silahkan pembaca yang budiman untuk menambahkan list keburukan layanan angkutan umum kita tersebut, saya tidak akan memperpanjangnya.

Saya cukup paham bahwa persoalan layanan angkutan umum ini sangat kompleks dan membutuhkan strategi yang jitu untuk memecahkannya. Fokus saya pada kesempatan ini, adalah pada sikap kita baik sebagai penumpang maupun sebagai awak angkutan dalam memanusiawikan layanan bus. 

Tidak usahlah jauh-jauh mengharapkan adanya layanan prima bagi penyandang cacat seperti kisah diatas, adanya perlakuan manusiawi antara penumpang dan awak angkutan saja sudah cukup menggembirakan. *** 

Artikel ini dimuat di:

Monday, 13 December 2010

Pro-Kontra Sistem Ranking dalam Pendidikan

Menarik menyimak diskusi hangat di milis Kibar (Keluarga Islam Indonesia Britania Raya) belakangan ini mengenai plus minus sistem pendidikan yang memberikan ranking dengan sistem pendidikan yang tidak memberikan ranking bagi siswa. Ada yang pro dan ada yang kontra. Yang pro beralasan bahwa sistem tersebut menimbulkan kompetisi sehingga masing-masing anak akan terdorong untuk berusaha sebaik-baiknya untuk menjadi yang terbaik. Sedangkan yang kontra beralasan bahwa pemberian ranking demikian ditengarai dapat menyebabkan kurangnya sikap menghargai antar siswa dimana anak yang tidak mendapat juara kurang mendapat penghargaan meskipun telah melakukan peningkatan yang cukup bagus.
Jika ditanya pendapat saya mengenai sistem ranking ini, tentu saya akan mengatakan bahwa sitem ini ada baik dan buruknya. Untuk sekedar berbagi, saya pernah punya pegalaman tidak mengenakkan akibat sistem ranking tersebut. Kebetulan saya selalu mendapat ranking terbaik di kelas dan di sekolah sejak di bangku SD sampai tamat SMA. Tentu saja saya senang mendapatkan ranking terbaik karena di samping mendapatkan penghargaan dan hadiah dari para guru, saya juga dapat membuat orang tua saya bangga. Namun ternyata tidak semua orang senang dengan keberhasilan saya. Beberapa teman merasa iri dan bersepakat untuk membuat ranking saya jatuh. Mereka menyusun rencana yang sungguh luar biasa untuk ukuran anak-anak yaitu: Pertama, mencuri buku catatan saya; Kedua, mengganggu konsentrasi saya ketika belajar dan Ketiga, memukul kepala saya berulang-ulang. Logikanya sangat sederhana, jika saya kehilangan catatan, maka saya tidak bisa mengulang pelajaran lagi. Dengan mengganggu konsentrasi saya ketika belajar, saya tidak akan dapat menangkap pelajaran dengan baik. Terakhir dengan memukul kepala saya, maka kemampuan otak saya untuk berpikir akan berkurang. Sungguh komprehensif. Saya mengetahui rencana ini karena mereka mendiskusikannya di dekat saya. Meskipun saya sudah mengetahui rencana tersebut, saya tidak dapat berbuat apa-apa. Saya tidak berani melawan karena mereka lebih tua (merupakan murid yang tinggal kelas), badannya besar-besar dan berasal dari keluarga yang cukup terpandang. Berkali-kali saya kehilangan catatan, berkali-kali pula konsentrasi belajar saya diganggu dan berkali-kali pula kepala saya mengalami pukulan. Ketika berusaha untuk mengadukan hal ini kepada guru, para guru malah menganggap saya mengada-ada karena tidak bisa membuktikannya. Kejadian ini baru berakhir setelah saya masuk SMA. Betul-betul pengalaman buruk yang membuat saya trauma.
Lalu apakah saya juara karena termotifasi oleh sistem ranking ini? Jawabannya tidak. Saya tidak pernah merasa termotifasi karena sistem ini. Cara belajar saya tetap sama bahkan cenderung malas. Saya lebih senang membaca sambil tiduran atau sambil berkebun. Kadang-kadang saya terpaksa belajar karena beberapa teman baik datang ke rumah dan minta diajari. Ujianpun saya lalui dengan biasa-biasa saja. Barulah pada saat pengumuman juara kelas atau juara sekolah, perasaan saya tak menentu. Teman-temanpun berkerubung disekitar saya dan menakut-nakuti bahwa saya tidak juara lagi kali ini. Bosan katanya mendengar yang juara selalu saya. Mereka ingin sekali-sekali mendengar nama orang lain yang dipanggil sebagai juara. Jantung sayapun berdebar dengan kencangnya, antara menyesal karena tidak belajar dengan baik dan keyakinan bahwa saya telah menjawab setiap soal ujian dengan baik. Karena tidak siap menghadapi pengumuman ini, kadang-kadang saya lebih memilih untuk tidak datang ke sekolah dan menitipkan pengambilan rapor ke orang lain. Ketika mengetahui bahwa saya masih juara seperti biasa, senangkah saya? Ternyata tidak juga. Perasaan saya tetap seperti biasa karena memang begitulah biasanya.
Kembali ke diskusi dalam milis yang mayoritas anggotanya merupakan warga Indonesia yang pernah tinggal untuk bekerja atau mengenyam pendidikan tinggi di UK diatas, yang menarik adalah adanya semacam kesepakatan bahwa sistem pendidikan yang mengutamakan nilai-nilai luhur lebih baik dari sistem pendidikan yang sekedar mengejar nilai angka. Bahkan inilah salah satu keunggulan pendidikan Indonesia yakni bertujuan menciptakan manusia yang beriman dan bertaqwa. Sayangnya tujuan ini mengalami distorsi dalam tataran operasionalnya. Pendidikan yang seharusnya menghasilkan manusia yang lebih mulia karena berilmu dan memiliki moralitas yang tinggi, justru berubah menjadi ajang kompetisi semu antara sesama pejabat, antar sekolah, dan antar kelas. Berbagai usaha dilakukan untuk memenangkan kompetisi semu tersebut. Salah satu faktanya adalah terungkapnya berbagai kebocoran soal ujian yang melibatkan berbagai pihak. Kompetisi semu ini sangat miskin ‘nilai-nilai’, kulit lebih diutamakan dari isi. Sekolah-sekolah berlomba mengadakan pelatihan kiat-kiat menghadapi ujian, atau membebankan sebagian tugasnya ke berbagai lembaga bimbingan belajar.
Saya teringat dengan pesan seorang Professor Emeritus dari salah satu perguruan tinggi di Sumatera. Ketika itu saya merupakan salah seorang peserta pelatihan Bahasa Inggris di universitas tersebut.  Salah satu tujuan pelatihan itu adalah agar para peserta mendapatkan skor TOEFL yang memenuhi syarat untuk diterima di perguruan tinggi luar negeri. Kami, para peserta, bingung karena sampai mendekati akhir masa pelatihan, peserta belum juga mendapatkan kiat-kiat bagaimana agar sukses dalam TOEFL. Sang Professor dengan tenang menjelaskan bahwa mereka tidak menyiapkan kami hanya untuk mencapai skor TOEFL tinggi, namun menyiapkan kami (para peserta) dengan kemampuan penguasaan Bahasa Inggris yang pasti akan sangat berguna bagi kehidupan kami. Beliau mengingatkan kami untuk jangan belajar hanya untuk TOEFL, tapi belajarlah untuk menguasai bahasa itu sendiri. Dengan kemampuan tersebut, kami akan siap menghadapi jenis test Bahasa Inggris yang manapun. Sungguh luar biasa. Sebuah pesan yang tidak dapat kami pahami saat itu, namun terasa sekali kebenarannya saat ini.
Menurut saya inilah sistem yang seharusnya diterapkan. Sistem yang tidak mengutamakan hasil ujian semata, namun sistem yang lebih menghargai proses. Para peserta didik dididik menguasai ilmu itu sendiri tanpa dibebani untuk mencapai skor tertentu. Setiap orang diberikan penghargaan atas setiap capaian baik yang dia peroleh dan mendapatkan perhatian dibagian yang masih perlu peningkatan tanpa perlu dibandingkan dengan orang lain secara terbuka. Moralitas anak-anak didik dijaga agar tetap jujur dan yakin dengan kemampuan diri sendiri. Ujian dilakukan bukan untuk mem-vonis peserta didik melainkan untuk mengevaluasi kinerja guru, mengevaluasi efektifitas teknik yang diterapkan dalam proses belajar-mengajar serta menyiapkan strategi lanjutan untuk meningkatkan penguasaan peserta didik. Bahwa dikemudian hari peserta didik harus menghadapi ujian tertentu, tidak akan mengapa. Karena mereka sudah memperoleh segala jurus untuk menaklukkannya. Wallahua’lam. (Ritzal405).

Tulisan ini dimuat di:

Saturday, 4 December 2010

Antara Remembrance Day dan Pahlawan Nasional

Veteran bergaya setelah acara Rememberance Day

Siang itu, 11 November 2010, aku sedang berdiskusi dengan M, seorang rekan di Transport Operations Research Group (TORG) Newcastle University. Dia adalah salah seorang PhD Student asli British. Topik yang sedang dibahas adalah mengenai sebuah hasil riset yang di publish di sebuah jurnal on-line. Sedang asyik-asyiknya berdiskusi, datanglah seorang teman British lainnya yang mengingatkan bahwa sekarang sudah pukul 11.00 am. Tiba-tiba si M tadi memencet tombol CTRL-ALT-DEL di keyboardnya seolah-olah dia hendak mengunci komputernya dan kemudian diam membisu. Aku yang terkaget berusaha untuk bertanya, namun dia tidak menghiraukanku lagi. Akhirnya dengan penuh tanda tanya, aku kembali ke mejaku.  Apakah dia tersinggung dengan sikapku ketika berdiskusi tadi?
Aku masih belum bisa konsentrasi ke komputerku. Kupalingkan lagi wajahku menghadapnya. Dia masih membisu. Ya sudahlah, pikirku. Aku kembali berusaha focus ke bacaan yang sedang kubuka di layar monitor sambil sesekali mengetik resumenya. Lama-lama aku sadar, ternyata hanya suara ketikan monitorku saja yang menggema di ruangan itu. Ku amati satu persatu para mahasiswa di ruangan tersebut, tidak satupun yang bergerak. Kebetulan saat itu hanya teman-teman British saja yang berada di ruangan.
Setelah lewat beberapa saat, barulah kembali terdengar suara-suara disana-sini. Kulihat M tadipun juga sudah bergerak kembali. Karena penasaran, kuhampiri dia. Akhirnya diapun menjelaskan mengenai apa yang dilakukannya tadi. Katanya, setiap jam 11 tanggal 11 bulan 11, mereka berdiam selama dua menit untuk mengheningkan cipta dan mendoakan para arwah orang-orang yang telah mengorbankan jiwanya demi membela negaranya dimanapun mereka berada. Mereka mengenalnya dengan Remembrance Day. Tujuannya awalnya adalah untuk ensuring that people remember those who have given their lives for the freedom we enjoy today (maksudnya adalah para prajurit yang tewas dalam perang dunia I dan II). Namun pada perkembangannya, mereka juga mengenang semua prajurit yang meninggal di medan konflik terbaru seperti di Afganistan, Irak dan di manapun tentara Inggris ikut terlibat, tanpa mempertanyakan alasan keterlibatannya. Kelopak bunga Poppy dijadikan sebagai symbol remembrance day.
Aku terkesiap mendengar penjelasannya. Kemaren-nya adalah tanggal 10 November yang merupakan tanggal yang telah ditetapkan sebagai Hari Pahlawan di Negara Republik Indonesia. Aku ingat betul bahwa hari-hari sebelumnya, berbagai media tanah air memberitakan mengenai seleksi Pahlawan Nasional yang akhirnya memutuskan bahwa dari beberapa nama yang diseleksi, ada yang dinyatakan lulus jadi pahlawan nasional dan ada pula yang layak tapi belum waktunya.
Aneh, pikirku dalam hati. Kenapa seseorang adalah pahlawan atau tidak mesti diputuskan oleh segelintir orang? Kenapa juga orang berebut untuk menjadikan seseorang pahlawan? Tidak cukupkah bila orang-orang mengenang jasanya tanpa perlu menunggu keputusan pemerintah mengenai layak tidaknya dia jadi pahlawan?
Siapa yang tidak kenal Muhammad Natsir? Nama dan jasanya pasti akan selalu disebut dalam sejarah Negara Republik Indonesia. Tapi kenapa baru pada tahun 2008 bisa disebut sebagai Pahlawan Nasional? Begitu juga dengan Bung Tomo. Siapa yang tidak kenal beliau? Bahkan tanggal peristiwa 10 November 1945 yang kemudian setiap tahunnya diperingati sebagai hari Pahlawanpun tidak terlepas dari peranan beliau. Beliaupun baru diangkat sebagai pahlawan nasional pada tahun 2008. Lain lagi kisah Syafrudin Prawiranegara, yang juga tak kalah besar jasanya selama zaman perjuangan kemerdekaan, bahkan sempat mendirikan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI). Malang baginya, sepanjang pengetahuanku, pemerintah masih belum rela mengangkatnya sebagai Pahlawan Nasional.
Timbul pertanyaan dalam diriku, haruskah pemerintah memutuskan untuk mengangkat atau tidak mengangkat seseorang sebagai Pahlawan Nasional? Apa keuntungan yang diperoleh seseorang yang ditetapkan sebagai Pahlawan? Apa yang akan dikatakan oleh para pahlawan atau calon pahlawan itu seandainya mereka dapat melihat, mendengar dan mengekspresikan perasaannya terhadap penilaian yang dilakukan?
Seandainya sejarah bisa ditulis apa adanya tanpa ada tendensi dari sipenulis, barangkali tidak diperlukan gelar pahlawan nasional sama sekali. Yang diperlukan hanyalah pengakuan atasnya sebagai pelaku sejarah. Cukuplah semua orang memahami bahwa orang-orang tertentu telah berjasa sesuai porsinya masing-masing bagi Negara ini dan kemudian mendoakan semoga Allah SWT menerima segala jasanya dan mengampuni segala kesalahan-kesalahannya. Sebagai manusia, para pahlawan mungkin saja punya ide, pikiran, dan tindakan bertentangan dengan keinginan penguasa dimasanya namun kemudian diadopsi oleh penguasa setelahnya atau sebaliknya, punya ide, gagasan dan perbuatan yang sesuai dengan pemerintah dimasanya namun belakangan dinilai menyimpang oleh penguasa berikutnya. Siapapun tidak akan pernah tahu niat yang terbersit dalam diri setiap pelaku sejarah. Biarlah Allah saja yang memutuskan apakah dia pahlawan atau tidak.
Kembali kepada teman tadi, katanya, orang British tidak peduli atas dasar apa para tentaranya tersebut bertempur. Yang penting adalah selagi dia berjuang atas nama Negara dan diperintah oleh penguasa yang syah, maka mereka adalah pahlawan. Mereka yang gugur layak untuk dikenang karena tentara tidak berhak mempertanyakan tugas yang diberikan kepadanya oleh pemerintahan yang syah yang telah dipilih secara demokratis.
Meskipun tidak sepenuhnya setuju atas apa yang disampaikannya, aku dapat merasakan bagaimana suasana hatinya dalam mengenang para tentara yang telah mengorbankan nyawanya demi ketenangan dan kedamaian yang dia rasakan saat ini. Semoga rakyat Indonesia tidak melupakan jasa para pahlawannya meskipun yang bersangkutan tidak/belum diakui sebagai pahlawan oleh pemrintah. Semoga Allah membalas segala jasa mereka yang telah berbuat kebaikan atas bangsa ini dan mengampuni segala salah dan khilafnya. (Ritzal405)

Tulisan ini sebelumnya dimuat di: