Melalui blog ini, saya mengucapkan Selamat Hari Raya Eidul Adha 1431 H, Taqobbalallahu minna wa minkum. Taqobbal yaa kariim. Meskipun tidak dapat menyaksikan kegiatan penyembelihan hewan kurban seperti di tanah air, namun perayaan Eidul Adha di Newcastle kali ini cukup berkesan. Kesan pertama adalah karena pada malam sebelumnya, sang istri tercinta telah membuat rendang Padang, masakan khas setiap bulan baik (Ramadhan, Idul Fitri dan Idul Adha) di kampung halaman. Kesan kedua adalah karena pada hari H suhu drop sampai satu derajat dibawah 0 sehingga membekukan embun di permukaan jalan, kaca-kaca mobil dan rerumputan. Tak kalah menarik adalah kesan ketiga, yakni menikmati Samosa, buah-buahan dan minuman ringan gratis di lokasi pelaksanaan shalat Eid.
Sebelumnya saya bukanlah orang yang sangat menyukai masakan rendang. Namun entah kenapa, tiba-tiba saja merindukan masakan khas Padang tersebut. Perjuangan mendapatkan masakannya tidaklah mudah. Pertama mesti menaklukkan hati Istri tercinta untuk bersedia memasaknya. Kedua mencari bahan-bahannya. Ternyata kelapa kaleng yang biasanya ada di toko-toko China, pada saat itu susah sekali didapatkan. Alhamdulillah ditemukan juga satu toko yang masih punya persediaan kelapa tersebut. Jadilah kami memborong semua kelapa yang ada tersebut. Sore harinya, saya mencari toko halal yang menjual daging sapi. Malangnya, dari empat toko halal yang dimasuki, tak satupun yang masih punya persediaan daging sapi. Salah satu toko menjanjikan bahwa esok hari akan datang stok baru. Alhamdulillah, akhirnya juga bisa didapatkan keesokan harinya. Ketiga, kesibukan memasaknya. Ternyata butuh kesabaran yang tinggi untuk bisa menghasilkan rendang dengan kualitas baik. Sudah lima jam memasak, masih belum juga kering seperti yang diharapkan. Setelah masak, kami istirahat sebentar untuk kemudian menyantapnya. Malangnya, ternyata rendang tersebut telah membeku kembali karena dinginnya suhu udara saat itu.
Pagi harinya, kami berangkat ke Eldon Square Sport Center, tempat biasanya kegiatan shalat Eid dilaksanakan. Dinginnya suhu menusuk tulang. Jalananpun menjadi licin karena tertutup lapisan es. Syauqi, anak kedua kami pun berkali-kali terjatuh. Kebetulan dia masih menggunakan sepatu yang biasa dipakai di musim panas. Hal ini menjadi alasan kuat baginya untuk minta dibelikan sepatu baru untuk winter. Alhamdulillah, selepas shalat Eid, keinginannyapun kami kabulkan. Sebuah sepatu khusu winter baru pun akhirnya terpasang dikakinya menggantikan sepatu yang dipakai tadi pagi.
Shalat Eid berlangsung tepat waktu yakni 15 menit setelah matahari terbit. Jamaah kali ini cukup rame, bahkan lebih rame daripada ketika shalat Eidul Fitri dua bulan lalu. Mungkin karena pada saat Eidul Fitri banyak mahasiswa baru yang belum datang sementara yang sudah selesai kuliahnya sudah buru-buru pulang kembali ke tanah air masing-masing. Selepas shalat Eid, para jamaah pun dipersilahkan menikmati makanan ringan seperti samosa, buah dan minuman ringan. Nada, anak kami yang pertama, tadinya menolak memakan samosa tersebut, namun begitu dicoba, akhirnya dia minta lagi karena rasanya enak katanya. Komentar yang sama juga datang dari teman-teman anggota PPI-Newcastle seperti Mas Hanif, Mba Desta dan Mas Pandu. Sudahlah enak, gratis lagi..hehehe.
Untuk berbagi cerita dengan teman-teman di tanah air dan dimanapun berada, berita mengenai pelaksanaan Eidul Adha di Newcastle saya tulis dan kirimkan ke Eramuslim.com dan Hidayatullah.com. Alhamdulillah dimuat. Berikut adalah linknya:
http://www.eramuslim.com/berita/silaturrahim/muslim-di-newcastle-rayakan-eidul-adha-1431-h.htm
http://www.hidayatullah.com/cermin-a-features/jalan-jalan/14214-mengikuti-perayaan-idul-adha-di-newcastle-
Semoga bermanfaat. [ritzal405]
Thursday, 18 November 2010
Sunday, 31 October 2010
British Summer Time (Kegagalanku membawaku mengenalmu)
Hari ini Minggu tanggal 31 Oktober 2010 merupakan akhir British Summer Time untuk tahun ini. Berakhirnya summer time ini, berarti setiap jam di Inggris mesti diputar satu jam kebelakang. Jika saat ini jam 06.00 pagi, maka setelah dimundurkan satu jam akan menjadi jam 05.00. Dengan demikian, beda waktu dengan Indonesia yang pada summer time adalah 6 jam kembali berubah menjadi 7 jam.
Saya mengenal British Summer Time ini melalui sebuah pengalaman pahit, gagal dalam wawancara langsung lewat Telepon dengan Ulster University untuk sebuah proyek penelitian PhD. Sebetulnya hal itu tidak murni kesalahan saya juga, karena undangan yang mereka sampaikan adalah bahwa "wawancara akan dilaksanakan pada pukul 09.00 BST atau sekitar pukul 16.00 waktu ditempatmu." Karena waktu itu saya belum paham dengan BST, maka saya berpatokan bahwa wawancara akan dilaksanakan pada pukul 16.00.
Peristiwa tersebut terjadi dua tahun lalu, tepatnya pada bulan September 2008. Saat itu saya masih aktif mengajar di Jurusan Teknik SIpil, Universitas Andalas. Saya membaca lowongan PhD studenship dari seorang Professor di Ulster University. Karena bidang kerjanya sesuai dengan yang saya inginkan, maka saya mengajukan lamaran. Tidak berapa lama kemudian, saya dinyatakan masuk dalam shortlist untuk di wawancara. Wawancara akan dilakukan melalui telepon pada hari dan tanggal yang disepakati. Ulster University menawarkan jadwalnya dan saya menyanggupinya. Seperti yang telah saya sebutkan diatas, jadwal wawancara adalah pada pukul 09.00 BST atau sekitar pukul 16.00 di Indonesia Bagian Barat.
Pada hari H, saya berusaha mempersiapkan diri dengan baik. Seluruh berkas yang sekiranya diperlukan sudah saya kantongi. Handphone sudah stand by dan meja diruangan saya sudah dikondisikan dengan baik. Jadwal mengajar sudah selesai. Hanya satu hal yang belum, yaitu mengantar proposal penelitian ke lembaga penelitian (LP). Jarum jam baru menunjukkan jam 14.00. Artinya masih ada sisa waktu sekitar dua jam sebelum wawancara. Saya pikir, perjalanan ke LP akan membutuhkan waktu kurang lebih satu jam, jadi cukuplah untuk sekedar mengantar proposal dan selanjutnya bersiap-siap wawancara. Akhirnya berangkalah saya ke LP dengan berjalan kaki.
Selesai urusan di LP, waktu sudah menunjukkan pukul 14.50. Karena khawatir telambat, maka saya balik kembali ke ruangan kantor saya dengan menggunakan bus kampus. Ditengah perjalanan, Hp saya berbunyi. Nomor yang menghubungi "unknown". Ketika saya angkat, ternyata itu adalah suara sang professor yang memperkenalkan diri dan mencoba memastikan saya sebagai penerima telepon. Saya berpikir, sudah pasti saya tidak akan dapat mendengar dengan baik di dalam bus ini. Dengan kemampuan Bahasa Inggris alakadarnya, saya yakin tidak mudah bagi saya untuk memahami maksud si pewawancara. Lagipula, segala bahan yang hendak digunakan masih berada di kantor. Akhirnya saya sampaikan bahwa saya masih berada di kendaraan dan minta mereka menghubungi saya lagi 5 menit ke depan. Saat menyampaikan hal itu, saya sudah pesimis mereka akan menelpon kembali.
Namun ternyata, 5 menit kemudian HP saya kembali berbunyi. Saat itu saya sudah dekat ke ruangan saya. Ketika saya angkat, ternyata suara tersebut benar-benar dari Professor tsb. Dengan berlari, saya berusaha agar ketika beliau mulai menanya, saya sudah berada di ruangan dan sudah siap dengan bahan-bahan yang disiapkan. Malangnya, entah karena kaget dan berlari tadi, nafas saya jadi sesak dan sulit untuk berkonsentrasi. Belum habis keterkejutan saya, muncul lagi satu problem yang sebelumnya meleset dari perhitungan saya yaitu rendahnya kualitas sinyal. Ternyata sinyal HP di ruangan saya lebih lemah dari ditempat lainnya. Akibatnya tak satupun pembicaraan dari pewawancara yang bisa saya pahami kecuali bagian introductionnya saja. Apa yang bisa saya jawab jika pertanyaan saja tidak dapat dipahami dengan baik? Akhirnya saya putuskan untuk menjawab berdasarkan intuisi saya saja mengenai pertanyaannya. Meskipun demikian, wawancara tetap berjalan selama satu jam sampai kuping memerah dan perih.
Seperti sudah diduga, hasilnya saya dinyatakan tidak diterima dan seperti biasa, mereka mendoakan saya untuk selalu sukses dalam usaha melanjutkan studi.
Demikianlah sekelumit kisah saya yang akhirnya membuat saya mencari tahu tentang apa itu BST. Kenapa mereka menghubungi saya satu jam lebih awa dari yang mereka janjikan. Kenapa dulu seingat saya siaran BBC London pada pukul 00.00 waktu Geenwich yang dengan setia ditunggu oleh Bapak saya selalu jatuh pada jam 07.00 pagi? Semoga dikesempatan lain bisa saya uraikan sedikit mengenai BST tersebut. (Ritzal405)
Saya mengenal British Summer Time ini melalui sebuah pengalaman pahit, gagal dalam wawancara langsung lewat Telepon dengan Ulster University untuk sebuah proyek penelitian PhD. Sebetulnya hal itu tidak murni kesalahan saya juga, karena undangan yang mereka sampaikan adalah bahwa "wawancara akan dilaksanakan pada pukul 09.00 BST atau sekitar pukul 16.00 waktu ditempatmu." Karena waktu itu saya belum paham dengan BST, maka saya berpatokan bahwa wawancara akan dilaksanakan pada pukul 16.00.
Peristiwa tersebut terjadi dua tahun lalu, tepatnya pada bulan September 2008. Saat itu saya masih aktif mengajar di Jurusan Teknik SIpil, Universitas Andalas. Saya membaca lowongan PhD studenship dari seorang Professor di Ulster University. Karena bidang kerjanya sesuai dengan yang saya inginkan, maka saya mengajukan lamaran. Tidak berapa lama kemudian, saya dinyatakan masuk dalam shortlist untuk di wawancara. Wawancara akan dilakukan melalui telepon pada hari dan tanggal yang disepakati. Ulster University menawarkan jadwalnya dan saya menyanggupinya. Seperti yang telah saya sebutkan diatas, jadwal wawancara adalah pada pukul 09.00 BST atau sekitar pukul 16.00 di Indonesia Bagian Barat.
Pada hari H, saya berusaha mempersiapkan diri dengan baik. Seluruh berkas yang sekiranya diperlukan sudah saya kantongi. Handphone sudah stand by dan meja diruangan saya sudah dikondisikan dengan baik. Jadwal mengajar sudah selesai. Hanya satu hal yang belum, yaitu mengantar proposal penelitian ke lembaga penelitian (LP). Jarum jam baru menunjukkan jam 14.00. Artinya masih ada sisa waktu sekitar dua jam sebelum wawancara. Saya pikir, perjalanan ke LP akan membutuhkan waktu kurang lebih satu jam, jadi cukuplah untuk sekedar mengantar proposal dan selanjutnya bersiap-siap wawancara. Akhirnya berangkalah saya ke LP dengan berjalan kaki.
Selesai urusan di LP, waktu sudah menunjukkan pukul 14.50. Karena khawatir telambat, maka saya balik kembali ke ruangan kantor saya dengan menggunakan bus kampus. Ditengah perjalanan, Hp saya berbunyi. Nomor yang menghubungi "unknown". Ketika saya angkat, ternyata itu adalah suara sang professor yang memperkenalkan diri dan mencoba memastikan saya sebagai penerima telepon. Saya berpikir, sudah pasti saya tidak akan dapat mendengar dengan baik di dalam bus ini. Dengan kemampuan Bahasa Inggris alakadarnya, saya yakin tidak mudah bagi saya untuk memahami maksud si pewawancara. Lagipula, segala bahan yang hendak digunakan masih berada di kantor. Akhirnya saya sampaikan bahwa saya masih berada di kendaraan dan minta mereka menghubungi saya lagi 5 menit ke depan. Saat menyampaikan hal itu, saya sudah pesimis mereka akan menelpon kembali.
Namun ternyata, 5 menit kemudian HP saya kembali berbunyi. Saat itu saya sudah dekat ke ruangan saya. Ketika saya angkat, ternyata suara tersebut benar-benar dari Professor tsb. Dengan berlari, saya berusaha agar ketika beliau mulai menanya, saya sudah berada di ruangan dan sudah siap dengan bahan-bahan yang disiapkan. Malangnya, entah karena kaget dan berlari tadi, nafas saya jadi sesak dan sulit untuk berkonsentrasi. Belum habis keterkejutan saya, muncul lagi satu problem yang sebelumnya meleset dari perhitungan saya yaitu rendahnya kualitas sinyal. Ternyata sinyal HP di ruangan saya lebih lemah dari ditempat lainnya. Akibatnya tak satupun pembicaraan dari pewawancara yang bisa saya pahami kecuali bagian introductionnya saja. Apa yang bisa saya jawab jika pertanyaan saja tidak dapat dipahami dengan baik? Akhirnya saya putuskan untuk menjawab berdasarkan intuisi saya saja mengenai pertanyaannya. Meskipun demikian, wawancara tetap berjalan selama satu jam sampai kuping memerah dan perih.
Seperti sudah diduga, hasilnya saya dinyatakan tidak diterima dan seperti biasa, mereka mendoakan saya untuk selalu sukses dalam usaha melanjutkan studi.
Demikianlah sekelumit kisah saya yang akhirnya membuat saya mencari tahu tentang apa itu BST. Kenapa mereka menghubungi saya satu jam lebih awa dari yang mereka janjikan. Kenapa dulu seingat saya siaran BBC London pada pukul 00.00 waktu Geenwich yang dengan setia ditunggu oleh Bapak saya selalu jatuh pada jam 07.00 pagi? Semoga dikesempatan lain bisa saya uraikan sedikit mengenai BST tersebut. (Ritzal405)
Friday, 29 October 2010
Masyarakat Indonesia di Inggris Raya Laksanakan Temu Akbar
![]() |
| Ketua Kibar dan Bpk. Muhammad Fauzil Adhim bersama sebagian peserta KAG-2010 (Doc. Endarko) |
![]() |
| Yosritzal, Ketua KIBAR periode 2010-2011, sedang memberikan kata sambutan (Doc. Fahren) |
![]() |
| Muhammad Fauzil Adhim didampingi moderator Rizal Yaya (Doc. Ritzal405) |
Untuk mencairkan suasana dan sebagai ajang untuk saling berkenalan dengan sesama warga Kibar, maka diadakanlah kegiatan Ice Breaking and Family Fun Games. Acara yang dipandu oleh Dono Widiatmoko, staf Dosen di Salford University. Acara ini benar-benar mampu memecah kekakuan dan siap menerima materi yang akan disampaikan oleh para pembicara pada sesi berikutnya.
![]() |
| Sebagian Peserta Pria berfoto bersama Ketua KIBAR dan Bpk. Muhammad Fauzil Adhim |
Acara ini menghadirkan Ustadz Muhammad Faudzil Adhim, pengarang buku best seller “Kupinang Engkau dengan Hamdalah” dan berbagai buku mengenai kado pernikahan dan parenting. Dalam ulasan materinya, Ustadz FaudzilAdhim menjelaskan bahwa untuk peradaban Islam bisa terwujud jika keluarga Muslim itu kuat. Membangkit peradaban Islam tidak bisa dilakukan secara instan. Peradaban Islam tidak akan terwujud jika setiap anak tidak dididik untuk menjadi seorang Muslim yang taat.
Nanung Danardono, staff Balai POM MUI Yogyakarta yang sekarang sedang menjalani study PhD di Galsgow tampil sebagai pembicara kedua dengan membawa topik seputar penyembelihan menurut Islam dan Barat, mana yang lebih beradab? Menurut beliau, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Professor dari Jerman, ternyata penyembelihan menurut Islam sangat sehat karena darah tidak tersimpan dalam tubuh sehingga daging tahan lebih lama. Selain itu, grafik dari alat pengukuran ekspresi otak atas kesakitan, hewan yang disembelih secara Islam juga tidak menunjukkan kesakitan sama sekali.
![]() |
| Nanung Danardono didampingi Moderator Diky (Doc. Ritzal405) |
![]() |
| Hendri Luki sedang membacakan biodata Ustadz Mahmud Kurdi (Doc. Betty) |
Ustadz Mahmud Kurdi, Pimpinan Muslim Welfare House Newcastle yang juga pembicara pada KAG-2010 ini menyatakan bahwa seorang Muslim harus berdakwah karena dengan berdakwah tersebut dirinya juga termotivasi untuk terus belajar dan memperbaiki dirinya. Warga Inggris asal Libanon ini berpendapat bahwa Islam phobia yang melanda Barat disebabkan oleh ketidak tahuan mereka akan ajaran Islam. Adalah kewajiban ummat Islam sendiri untuk menjelaskan Islam kepada mereka sehingga mereka tercerahkan. Fakta menunjukkan bahwa setelah berbagai peristiwa yang menyakitkan ummat Islam seperti pembakaran Al-Quran dan pembuatan kartun Nabi Muhammad, terdapat kecenderungan yang tinggi di masyarakat Barat untuk mengkaji Islam. Tidak sedikit diantara mereka yang akhirnya memeluk agama Islam setelah peristiwa tersebut.
![]() |
| Dari kiri ke kanan: Iswandaru Widyatmoko, Asyari Usman, Bernardi Pranggono dan Ali Syofyan (Doc. Betty) |
Sementara itu, Asyari Usman, wartawan senior BBC, dalam dialog mengenai kiat sukses bekerja di UK menyatakan bahwa dari tahun ke tahun, sangat terasa perbedaan perlakuan terhadap muslim di UK. Pada akhir tahun 80-an saat beliau pertama bekerja di BBC, sangat susah sekali mencari tempat untuk shalat. Seorang koleganya asal Makassar waktu itu sholat di antara mesin fotokopi dan keranjang sampah di satu ruangan editing.
Dalam perkembangan akhir-akhir ini, teman asal Arab dan Somalia memberanikan diri datang kepada manajemen untuk mengungkapkan keperluan ruangan sholat bagi para staf Muslim. Saat ini, menurut pria asal Sumatera Utara tersebut, sudah jauh lebih kondusif. Sebuah ruangan yang cukup untuk digunakan sholat harian dan sholat Jum’at sudah disediakan untuk merka. Bahkan, disediakan juga satu ruangan yang sama besarnya untuk staf Muslimah
Hal senada juga disampaikan oleh panelis lainnya yaitu Bernardi Pranggono, dan Ali Syofyan, keduanya doktor lulusan universitas ternama di UK dan menapaki karir di UK sebagai pekerja professional. Menurut mereka, kesempatan beribadah di tempat kerja sekarang sudah lebih mudah.
![]() |
| Operet anak-anak (Doc. Betty) |
Selain seminar dan diskusi, KAG-2010 ini juga dimeriahkan dengan penampilan operet anak Al-Imanu Kidz dan lomba kreasi anak seperti lomba foto, lomba story telling dan lomba kreasi dari karton bekas. Al-Imanu Kidz adalah sebutan untuk kelompok pengajian anak di Newcastle yang diasuh oleh Fitria Heny, seorang Dokter yang saat ini sedang mendampingi suaminya yang sedang tugas belajar di UK. Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) London pun ikut berpartisipasi dalam acara tersebut dengan membuka layanan konsultasi seperti perpanjangan paspor dan lapor diri bagi warga Indonesia yang baru datang ke UK.
![]() |
| Suasana kegiatan anak pada acara KAG-2010 (Doc. Endarko) |
![]() |
| Salah satu stand bazar (Doc. Endarko) |
Catatan: Versi lain tulisan ini telah dimuat di Eramuslim.com tanggal 26-28 Oktober 2010 pada link berikut:
http://www.eramuslim.com/berita/info-umat/masyarakat-indonesia-di-inggris-raya-laksanakan-temu-akbar.htm
http://www.eramuslim.com/berita/info-umat/bazar-makanan-khas-indonesia-ramaikan-temu-akbar-muslim-indonesia-di-britania-raya.htm
http://www.eramuslim.com/berita/info-umat/masyarakat-indonesia-di-inggris-raya-laksanakan-temu-akbar.htm
http://www.eramuslim.com/berita/info-umat/bazar-makanan-khas-indonesia-ramaikan-temu-akbar-muslim-indonesia-di-britania-raya.htm
Saturday, 18 September 2010
GEORDIE
![]() |
| Geordies keluar dari St. James Park Stadium setelah pertandingan. Kita bisa tahu hasil pertandingan dengan melihat ekspresi wajah-wajah mereka. |
Wednesday, 15 September 2010
HANYA KARENA NAMA
“I have just been performing some maintenance to the website to remove spam emails that are sent during the submission period. The spam emails are easily recognisable as their first and last names in the user list are identical. Although when checking each record of this type I noticed that yours was a genuine submission, I’m afraid I was on auto-pilot and deleted your record instead of passing it over. Could you please send your abstract again to both myself and Stephen Potter?”
Demikian bunyi sebuah e-mail yang kuterima pagi ini yang membuatku terperangah. Bagaimana tidak. Gara-gara namaku yang hanya terdiri dari satu kata ini, membuat abstrak paper yang kutulis untuk sebuah conference hampir saja tereliminasi. “The spam emails are easily recognisable as their first and last names in the user list are identical,” demikian bunyi kalimat yang menyakitkan itu. E-mail dari ku dianggap SPAM. Padahal e-mail itu aku kirim dari alamat e-mail resmi universitas yang menaungiku.
Sunday, 5 September 2010
PhD is not only about research
PhD is not only about reserach...begitulah suatu hari seorang teman menasehatiku. Dia menyarakan agar aku tidak hanya terpaku pada riset dan berpedoman kepada handbook yang diberikan. Namun lebih dari itu, dia menyarakan agar aku belajar dari pengalaman PhD student terdahulu, terutama yang berada pada bidang riset yang sama, supervisor yang sama dan kampus/kota yang sama. Menurutnya, sebagian besar dari permasalahan penyelesaian study PhD itu justru berada pada hal-hal di luar dari riset itu sendiri. "Waktu tiga tahuan yang disediakan untuk penyelesaian riset PhD itu sudah lebih dari cukup jika tidak ada hal lain yang mempengaruhi. Tapi betapa banyak kita saksikan PhD student menghabiskan waktu lebih lama bahkan sampai diberhentikan karena risetnya tidak kunjung selesai. Kamu mesti berhati-hati." demikian dia menegaskan. Sungguh aku tak mengerti, walau telah ia jelaskan dengan demikian gamblang, bahwa ada banyak hal yang mempengaruhi capaian seseorang dalam menggapai gelar akademik tersebut. Bagiku riset yang sedang kuhadapi saja sudah cukup membuatku kewalahan.
Sunday, 29 August 2010
Selamat Datang Autum
Di penghujung musim panas ini, suasana dingin sudah mulai menusuk tulang. Padahal suhu rata-rata masih sekitar 18 derajat Celcius. Mungkinkah karena sudah terbiasa dengan suhu diatas 20 derajat Celcius dalam tiga bulan terakhir? Tidak juga, karena variasi suhu selama musim panas cukup besar. Kadang bisa mencapai 23 derajat Celcius namun tak jarang juga drop sampai mencapai 9 derajat Celcius. Yang lebih parah lagi adalah variasi suhu tersebut bisa terjadi pada hari yang sama. Kalau sudah begini, sungguh menggelikan melihat banyak orang yang salah kostum beredar di jalanan.
Pagi ini suhu sekitar 14 derajat Celcius. Cukup sejuk di kulit. Hm...jadi teringat pengalaman di Puncak Gunung Sago beberapa tahun yang lalu. Ketika itu aku beserta beberapa orang teman sedang melakukan pendakian ke puncak Gunung Sago yang terkenal tebing-tebingnya yang curam. Karena terlalu cepat naik, maka kami sudah mencapai puncak sebelum tengah malam. Akhirnya kami memutuskan untuk beristirahat di puncak tersebut sambil menunggu pagi. Tidak disangka, tiba-tiba turun hujan dengan derasnya dan anginpun bertiup dengan sangat kencang. Namun mungkin karena kelelahan, hal itu tidak mengusik tidur kami sedikitpun. Sekitar pukul 03.00 dini hari, aku terbangun karena teriakan teman-teman yang membangunkan kami dan mengajak segera mencari perlindungan. Ketika itulah baru kurasakan bahwa ternyata beberapa bagian tubuhku sudah memucat dan badanpun menggigil. Sungguh susana yang tidak mengenakkan sama sekali. Beberapa teman mencoba menghidupkan api, namun tidak berhasil karena lebatnya hujan dan kencangnya angin. Dengan pertimbangan hari masih gelap dan kebetulan baterai senter yang kami miliki sudah terkuras habis sebelum sampai di puncak, maka kami putuskan untuk mencari perlindungan saja ketimbang langsung turun. Ah...Seandainya tubuh ini sudah beradaptasi seperti saat ini, tentu kejadian demikian tidak akan pernah terjadi.
Selamat datang Autum. Kehadiranmu pertanda sudah satu putaran penuh musim telah kulewati di negeri Pangeran Charles ini. Banyak peristiwa telah dialami dan sayang untuk dilewatkan. Melalui blog ini, akan ku tumpahkan segala kenanganku akan ide-ide yang muncul, keluargaku dan pengalaman-pengalamanku selama bertualang di United Kingdom ini.
Subscribe to:
Posts (Atom)














