Tuesday, 2 July 2013

Ramadhan 1434H, Berpuasa 19 Jam? In Sha Allah Bisa!

Sisa-sisa banjir di Eldon Square, Juni 2012
Sekitar satu minggu lagi, Ramadhan 1434H segera menjelang.
Banyak teman-teman yang baru datang ke UK khawatir.
Takut tidak sanggup berpuasa mengingat puasa tahun ini masih jatuh di musim panas.
Saat ini waktu subuh masuk pukul 02.52 dini hari dan waktu maghrib pukul 09.47 malam.
Jadi lamanya waktu dari subuh sampai maghrib berkisar 19 jam-an.
Rasanya tidak akan banyak perubahan ketika awal memasuki Ramadhan.

Meski sudah melewati siang terpanjang di UK (21 Juni 2013),  siang masih sekitar 19 jam-an.
Hujan di musim panas, Juni 2013

Ramalan cuaca awal July 2013


In sha Allah sebenarnya berpuasa di UK tidaklah seberat di Indonesia meskipun di musim panas.
Menilik pengalaman Ramadhan tahun-tahun sebelumnya,
meskipun berada dipuncak musim panas, suhu di UK tidak akan lebih dari 30 derajat Celcius.
Sudah menjadi pameo bahwa British Summer adalah musim hujan.
Tidak jarang, banjir besar terjadi justru di musim summer.
Suhu umumnya berkisar di angka belasan derajat celcius saja.
Hal ini sangat membantu sehingga tidak dehidrasi walaupun tidak minum selama hampir 20 jam.
Mudah-mudahan hal yang sama juga terjadi tahun ini sehingga ibadah puasa dapat dijalani dengan baik.

Eldon Square sehabis banjir bulan Juni 2012

Windermere, Juni 2012

Ramalan Cuaca awal Juli 2012


Yang mungkin agak menjadi masalah adalah pendeknya waktu malam.
Dalam lima jam, ada banyak agenda yang harus dilakukan.
Mulai dari berbuka, Sholat Maghrib, Sholat Isha, Sholat Tarwih, dan Sahur.
Belum lagi kalau ada ceramah, tadarus dsb.
Kapan bisa tidur?

Biasanya di masjid-masjid,
setelah berbuka dengan sedikit makanan manis, jama'ah menunaikan shalat maghrib.
Selepas maghrib, dilanjutkan dengan makan malam bersama.
Setengah jam berikutnya, jama'ah menunaikan shalat Isya dan dilanjutkan dengan Tarwih.
Shalat Tarwih selesai sekitar pukul 00.30 malam.
Jam 02.00 sudah harus bangun lagi untuk makan sahur dan dilanjutkan dengan shalat subuh.

Pengalaman tahun lalu, kebanyakan teman-teman tidak tidur di malam hari.
Mereka baru tidur setelah sahur dan sore sebelum maghrib.
Jam dinas di UK dimulai pukul 09.00 pagi sampai jam 05.00 sore.
Jadi masih ada waktu sekitar 5 jam-an untuk istirahat sehabis subuh dan 4 jam-an sehabis jam dinas.

Bagaimana produktifitas selama Ramadhan?
Saya tidak merasakan ada penurunan produktifitas selama Ramadhan.
Malahan barangkali terjadi peningkatan, mengingat waktu untuk bekerja menjadi lebih banyak.
Biasanya pagi sebelum berangkat harus sarapan dulu.
Jam 10.00-10.30 ada agenda tea time di kantor.
Jam 12.00-13.00 jadwal makan siang.
Dzuhur berjamaah di masjid jam 13.30-14.00.
Jam 15.00-15.30 tea time lagi.
Jam 17.00 sudah berakhir jam kantor.
Di bulan Ramadhan, seluruh tea time dan jam makan siang bisa digunakan untuk bekerja.

Berkahnya lagi, Ramadhan adalah bulan hemat buat mahasiswa.
Pengeluaran bisa ditekan sebatas sewa kosan dan bill air, listrik, telepon, dan internet.
Biaya makan bisa nol karena masjid-masjid berlomba menyediakan buka puasa dan kadang sahur bagi jama'ah.

Semoga Allah berkenan mempertemukan kita dengan Ramadhan ini.
Semoga amal ibadah kita semakin baik dari waktu-waktu sebelumnya.
Semoga predikat taqwa bisa diraih.


Tradisi Menyambut Ramadhan


Menjelang memasuki bulan Ramadhan, kata "Balimau" menjadi trending topik di Ranah Minang. Sudah banyak pemimpin, ulama, cadiak-pandai yang mengingatkan akan potensi masalah dalam tradisi tersebut a.l.:

  1. Dikhawatirkan adanya anggapan seolah-olah tradisi balimau ini merupakan suatu ibadah yang kalau tidak dilaksanakan bisa merusak pahala amalan Ramadhan kita.
  2. Dikhawatirkan memicu terjadinya maksiat antara lain: bercampurnya laki-laki dan perempuan, terbukanya aurat dan dilihat/melihat aurat orang lain.
  3. Dikhawatirkan memicu penyakit kulit karena berbagai jenis manusia pada saat bersamaan mandi di tempat yang terbatas.
  4. Teralihkannya perhatian terkait mempersiapkan diri dalam menjalankan ibadah Ramadhan. Mensucikan diri dari hadast dapat dilakukan dalam ruangan tertutup.
  5. Meningkatnya peluang terjadinya kecelakaan lalu lintas atau tenggelam di danau.
  6. Kemaksiatan yang terjadi bisa mengundang diturunkannya bencana.

Sebenarnya selain tradisi Balimau, dalam menyambut bulan Ramadhan, di ranah Minang ada banyak tradisi lain yang mungkin lebih bermanfaat bagi kehidupan dunia akhirat a.l.:
  1. Bersilaturrahim ke rumah orang tua, mertua, sanak-family. Selain untuk mengokohkan ikatan kekeluargaan juga perlu untuk saling menyemangati dan berlomba untuk beribadah di bulan Ramadhan. Tidak lupa membawa oleh-oleh makanan khas daerah seperti Lamang dan Kolak.
  2. Membantu sanak-family sekiranya mengalami hal-hal yang dapat mengurangi kekhusu'annya dalam beribadah seperti kekurangan bahan makanan, sakit, dsb.
  3. Membantu pengurus masjid untuk membersihkan, menghias dan melengkapi peralatan yang dibutuhkan untuk lebih meningkatkan kualitas ibadah.
  4. Menyusun target-target ibadah seperti khatam Al-Quran minimal sekali selama Ramadhan, kemudian merancang program untuk mencapainya misal dengan membaca dua lembar Al-Quran setiap selesai shalat dsb.

Alangkah indahnya jika memasuki bulan Ramadhan ini, kita bisa menghindari potensi timbulnya maksiat dan lebih mendorong terjalinnya silaturrahim antara sesama kita dan mempersiapkan diri baik secara fisik maupun ruhy memasuki bulan suci ini. Semoga Allah menyampaikan usia kita pada bulan Ramadhan dan ibadah kita semakin meningkat dibanding Ramadhan-Ramadhan sebelumnya.

Friday, 21 June 2013

Derita Bumi Melayu

Photo diambil dari prow135.blogspot.com
Pernahkah Anda berkeliling sebuah kota besar yang dipenuhi bangunan-bangunan bertingkat banyak, di kala subuh yang berembun?
Saya pernah merasakan sensasinya sekitar 16 tahun yang lalu.
Lampu-lampu di jendela bangunan berkelipan.
Sesekali terlihat lift berhiaskan lampu berwarna merah turun dari puncak dengan kecepatan tinggi.
Jarak pandang di jalanan tidak lebih dari 5 meter, sisanya kabur.
Yang mengejutkan, sesekali melintas ular besar, monyet atau beruang.
Di kota besar ada ular, monyet dan beruang?
Ah tidak. Ini hanya sensasinya saja.

Realitanya, saya sedang berjalan ditengah hutan yang terbakar (atau dibakar?).
Sungai Akar, 2007.
Hutan sebelah kiri dan kanan jalan hampir ludes dimamah si jago merah.
Lahan gambut memudahkan bara api menyeberang melewati pondasi bawah jalan.
Yang terlihat seperti gedung bertingkat banyak tersebut adalah pohon-pohon besar
Dahannya, ranting dan daunnya sudah hangus terbakar.
Meninggalkan pohon utamanya saja.
Kadang sebongkah kayu jatuh dari puncak seperti lift yang turun dengan cepat.
Hewan-hewan liar berlarian menghindar.
Ada yang selamat, tapi kebanyakan tidak dapat menyelamatkan diri.

Banyak yang menuduh penebang liar dari penduduk sekitar yang berulah.
Well, ya sebagian dari mereka berprofesi sebagai "pembalak".
Tapi menurut saya mereka hanyalah bagian dari ekosistem itu sendiri.
Mereka menebang sebatang pohon besar, menggergajinya kemudian menjualnya.
Uang yang di dapat digunakan untuk sebulan hidup.
Setelah uang tersebut habis, mereka kembali ke hutan.
Memilih pohon besar lainnya dan melakukan hal yang sama.
Efek nya tidak akan masif.

Mereka bukanlah orang yang diuntungkan dari terbakarnya hutan.
Mereka malah dirugikan karena tidak dapat lagi membalak.
Mereka akhirnya harus rela menghisap udara penuh racun itu.
Yang tidak tahan akhirnya mengungsi.
Perlahan mereka makin tersingkir.
Hujan turun, apipun padam.
Lahan yang terbakar kemudian berubah menjadi perkebunan.
Entah siapa tuannya.
Para pekerja pendatang yang dianggap rajin dan pemberani berkuasa di lahan itu.
Penduduk lokal sering dianggap sebagai "pemalas" menjadi tamu di tanah sendiri.

Ah…derita bumi melayu.

Wednesday, 22 May 2013

Belajar di Kebun Jagung

Foto: http://aankada.blogspot.co.uk/

Setiap melihat foto tanaman
atau petani sedang menyiang tanaman.
Memori itu bangkit kembali.
Seperempat abad yang lalu.
Salah satu masa paling bahagia dalam hidupku.

Menanam sendiri biji tanaman muda kesukaan
Jagung, kacang panjang, buncis, kacang padi, terong, mentimun ubi jalar dan kacang tanah.
Di rawat dengan kasih sayang, disiram, disiang dan dipupuk.
Agar tumbuh menghijau dengan buah yang berkualitas.

Kebun jagung adalah tempat yang paling kusenangi
Apalagi di saat ujian sudah mendekat
Ketika batang jagung sudah meninggi
meninggalkan ruang teduh di antara petak-petak gundukan tanah.

Disanalah ku duduk sambil membaca
Berteriak sesuka hati tanpa takut tetangga terganggu.
Ditemani kasih sayang Amak atau kawalan Abak
Yang dengan setia menemani anaknya
Belajar di kebun jagung.

Pernah satu kali
Aku bersama Abak sedang beristirahat
Tiba-tiba segerombolan pemuda kampung datang menyerbu
Memasuki kebun mentimun kami
Sambil memetik dan melalap buah mentimun muda

Kami tidak marah,
Aku tidak, Abakpun tidak.
Kami hanya tersenyum, 
mungkin mereka lapar 
atau haus sehabis main layangan

Ketika mereka sadar,
Kami melihat
Dengan malu merekapun minta maaf.
Kami sudah memaafkan sebelum diminta.

Inginku menikmati kembali masa-masa itu.
Bisakah ia kembali?
Tanahku sudah kerontang.
Musuh tanamanpun merajalela.

Oh…kebun jagung ku.
Ingin ku belajar kembali
Di sela pelepah daunmu.
Mengukir masa depan.

Saturday, 27 April 2013

Si Buyung

Foto: commons.wikimedia.org
Ini kisah nyata tentang seorang anak manusia. Tidak banyak yang kenal namanya. Dia hanyalah seorang anak miskin dengan pakaian compang camping. Umurnya masih 7 tahun. Orang-orang biasanya hanya memanggilnya Buyung.  Buyung adalah panggilan untuk anak laki-laki secara umum di Sumatera Barat.  Meskipun miskin, Buyung memiliki otak yang cemerlang.

Alkisah suatu hari di tahun 1940-an, murid-murid pengajian di Surau Tuo tempat Buyung mengaji di undang dalam sebuah acara. Pengundang adalah Angku Datuk (seorang ulama terkenal zaman itu).  Angku adalah panggilan kehormatan untuk Ustadz/Ulama atau pejabat zaman dahulu di Sumatera Barat). Ajang ini adalah semacam uji kredibilitas dari sebuah surau. Setiap undangan demikian, biasanya murid-murid akan membaca ayat-ayat pilihan dalam Al-Quran tanpa melihat mashaf dan diakhiri dengan menyantap hidangan lezat. Tentu saja hal itu sangat menarik bagi seluruh murid-murid pengajian. Maklum di zaman sulit masa itu, jarang sekali ada kesempatan makan enak di rumah. Apalagi bagi keluarga si Buyung yang memang sangat miskin.

Alangkah kecewanya di Buyung. Dia tidak diijinkan ikut. Karena pakaiannya compang-camping, tidak pantas untuk dibawa ke "tengah" (ke keramaian). Dia ngotot dan diam-diam mengikuti dari belakang. Setelah cukup jauh dari kampung, Angku Mudo, guru ngaji Buyung tahu juga. Angku Mudo tidak mungkin lagi mengusirnya, terlalu jauh dari kampung. Setelah ditimbang-timbang, akhirnya dia diikutkan dengan tugas membawa kambing yang akan dibantai di sana. Si Buyungpun menyetujui. 

Perjalanan ditempuh selama beberapa jam. Setiap anggota rombongan memakai pakaian terbaiknya dan berjalan dalam barisan yang rapi. Si Buyung berjalan di belakang rombongan, sambil menuntun se-ekor ambing jantan. Sepanjang jalan, si Buyung menyibukkan diri dengan mengulang-ulang hafalan ayatnya.

Setelah lama di jalan, sampai jugalah rombongan ke Surau milik Angku Datuk. Seluruh rombongan dipersilahkan masuk. Malang bagi si Buyung, dia dilarang oleh Angku Mudo untuk masuk. Dia disuruh tetap diluar karena pakaiannya yang tidak pantas. Di tempat acara telah hadir beberapa Angku dari berbagai surau.

Acarapun dimulai. Bermula dengan pidato sembah-menyembah kedua pihak, pengundang dan tamu. Dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Quran secara bersama-sama. Si Buyung menyimak sambil mengintip dari lobang dinding. Murid-murid membaca dengan sangat baik. Para Angku-pun tersenyum. Sampai pada suatu ayat, bacaan tersendat. Diulang, masih tersendat. Tidak ada satu muridpun yang bisa melanjutkan. Air muka Para Angku-pun kini berubah sedih.

Tiba-tiba dari balik dinding, kedengaran suara Begitu merdu melantunkan kelanjutan ayat yang tadi tersendat. Semua mata terarah ke arah asal suara. Angku Datuk pun bertanya: Siapa dia? Kenapa dia ada di luar? Angku Mudo pun menjelaskan bahwa dia adalah si Buyung, pembawa kambing. Angku Datuk terharu. Beliaupun memerintahkan Angku Mudo untuk membawa Buyung masuk. Beliau tidak suka ada anak yang ditinggal. Apalagi hafalannya lebih baik dari yang lain. Dipanggilnya si Buyung. Diberinya si Buyung pakaian terbaik milik anaknya. Kemudian diajaknya duduk di dekatnya sambil dipeluk. "Anak ini tidak seharusnya ditinggal. Dia sangat cerdas dan saya sangat bangga dengannya," kata Angku Datuk. Si Buyung sekarang menjadi murid Angku Datuk. Angku Mudo pun tertunduk malu.

Si Buyung mendapatkan apa yang diidamkannya. Begitulah Allah meninggikan derajat orang yang berilmu. Itu baru di dunia. Apalagi di akhirat kelak.

Tuesday, 23 April 2013

Bahayanya Pengaburan Sejarah


Foto hanya untuk ilustrasi saja,
diambil dari sebuah website. 

“Sejarah ditulis oleh pemenang” demikian pepatah mengatakan dan diamini oleh kebanyakan sejarawan. Tidak heran jika kemudian banyak fakta-fakta sejarah yang dikaburkan atau dibelokkan demi menyesuaikan dengan keinginan dan alur cerita yang dibuat oleh si “pemenang.” Pemenang selalu kelihatan sebagai pihak yang paling baik dan paling benar dan pantas memenangkan pertarungan.

Padahal sejarah adalah bagian dari masa lalu yang sangat dibutuhkan untuk introspeksi. Jika fakta-fakta sejarah sudah dikaburkan atau dibelokkan, maka tidak ada gunanya lagi. Dia tidak lebih hanya sebagai salah satu justifikasi saja dari sebuah gagasan dari kelompok “pemenang” tanpa peduli siapa dia. Bisa jadi dia memang seorang yang sangat baik dan patut dijadikan suri teladan, namun bisa juga dia adalah penipu licik yang tamak.

Kalau mau jujur, sejarah adalah kumpulan fakta-fakta di masa silam. Seorang sejarawan yang baik mestinya tidak menulis sejarah berdasarkan apa yang diskenariokan pemenang. Seharusnya dia menggali fakta-fakat yang ada. Jika fakta tersebut tersembunyi atau disembunyikan, maka tugas dialah untuk mencari kebenaran dari fakta tersebut. Satu hal lagi, seorang sejarawan seharusnya membatasi diri dalam mencoba menginterpretasi fakta-fakta tersebut, karena interpretasi merupakan salah satu penyebab biasnya sebuah sejarah. Biarlah publik yang menginterpretasi fakta-fakta tersebut berdasarkan logikanya sendiri. Kelak, kumpulan fakta itu akan menceritakan dirinya sendiri.

Di dunia ini, dalam setiap kejadian hanya ada satu versi saja sejarah yang benar. Sisanya adalah versi interpretasi berdasarkan fakta yang tidak utuh. Semakin sedikit fakta yang terkumpul, semakin banyak asumsi dan interpretasi yang dimunculkan agar dia menjadi sebuah rangkain cerita yang beralur dan bermakna. Jika sejarawan malas dalam menggali fakta atau suka membelokkan fakta, maka yang dipublikasikan tidak lebih hanyalah sebuah dongeng pengantar tidur saja.

Pengaburan fakta sejarah bisa berakibat fatal dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Penghilangan kontribusi salah satu golongan bisa berakibat terjadinya kesalahpahaman. Generasi penerus dari pihak yang fakta sejarahnya dikaburkan akan merasa tidak punya andil dalam sejarah bangsa mereka sementara pihak yang lain, semakin tegas merasa bahwa pihak yang dihilangkan kontribusinya tersebut, memang tidak punya kontribusi apa-apa dalam sejarah masyarakatnya. Ketimpangan ini akan menimbulkan sikap saling curiga dan dampak buruk lainnya dalam kehidupan bermasyarakat di masa datang.

Lebih jauh lagi, pihak yang kontribusinya dihilangkan dalam sejarah akan merasa terpinggirkan. Kebenaran yang tertutupi akan mencari jalannya untuk mendapatkan pengakuan. Pihak yang merasa kebenarannya tertutupi akan berusaha menunjukkan fakta-fakta yang ada melalui jalur-jalur yang tidak lazim. Buku-buku, koran-koran, majalah-majalah underground bermunculan menjadi corong menyuarakan fakta yang mereka yakini kebenarannya. Pada saatnya bukan mustahil akan menjadi gerakan massif yang berbalik menjadi sumber pemberontakan fisik.

Berhati-hatilah dalam menulis sejarah. Tidak ada pemenang yang kekal, karena kemenangan dan kekuasaan itu dipergilirkan oleh Allah SWT. Jika tradisi penghilangan sejarah terus menerus dipupuk oleh satu pemenang ke pemenang berikutnya, maka tidak ada pelajaran yang bisa diambil untuk kebaikan dimasa mendatang.


Bagi pelaku sejarah, tidak usahlah kecewa jika tidak tercatat oleh manusia atau sejarawan. Setiap tindakan pasti sudah tercatat dan pastilah akan ada balasannya yang setimpal. Setitik kebaikan yang dilakukan akan berbalas syurga, begitu juga setitik kejahatan yang terlanjur dilakukan akan berbalas neraka kecuali jika bertobat dan diampuni oleh Allah SWT.  Wallahu’alam.

Catatan:

Tulisan ini terinspirasi dari wacana penghapusan materi yang berkaitan dengan peranan Muslim dan Islam dalam perkembangan budaya di Inggris dan Eropa dalam pelajaran sejarah di sekolah-sekolah Inggris. Padahal Renaissance yang terjadi di Eropa merupakan salah satu buah dari keberhasilan budaya Islam. Pada saat itu Eropa sedang dalam masa kegelapan, sementara dunia Islam sedang dalam masa kejayaannya. Budaya Islam baik di bidang ilmu pengetahuan maupun dalam hubungan sosial kemasyarakatan berkembang dengan pesat sampai ke daratan Eropa terutama di Spanyol dan Italia. Banyak orang-orang Romawi dan Yunani yang belajar ke universitas-universitas di wilayah kekuasaan Islam yang kemudian mendorong mereka untuk melakukan perubahan mendasar dalam kehidupan masyarakatnya yang pada gilirannya melahirkan Renaissance tersebut.


Friday, 19 April 2013

Professor Pengais Sampah


Dia adalah professor pembimbing disertasi saya. Usianya sudah melebihi masa pensiun. Sudah beberapa tahun ini dia tidak menerima gaji lagi dari negara karena sudah pensiun. Namun kampus tetap masih membutuhkannya sehingga tetap memperpanjang masa pengabdiannya atas biaya kampus. Saat ini, dia merupakan salah satu professor terproduktif di group riset kami. Dia banyak mendatangkan proyek dengan biaya besar ke universitas yang berimbas ke banyaknya publikasi. Tapi bukan itu yang hendak saya tulis disini, juga bukan mengenai cara dia dalam membimbing mahasiswanya. Ini adalah cerita langka yang tidak semua orang mengapresiasi yakni kecintaannya pada pemeliharaan lingkungan.

Saat itu group kami kedatangan tamu dari Indonesia. Karena saya adalah salah satu mahasiswa asal Indonesia, maka saya pun diajak ikut serta dalam pertemuan. Saat itu para peserta pertemuan disuguhi makan siang berupa burger, cake, buah, dan jenis makanan standard lainnya. Selesai makan, si professor dengan aktif mengumpulkan piring-piring yang diletakkan oleh para peserta di meja. Kemudian dia memilah sampah makanan tersebut berdasarkan jenisnya: sampah organik, sampah yang bisa di daur ulang dan sampah umum. Kemudian dia membawa dan memasukkan sampah tersebut ke tong sampah yang bersesuaian yang tersedia dalam ruangan. Saat itu saya pikir, mungkin dia sedang “mengajari” kami dan para tamu mengenai bagaimana mereka (Inggris) memperlakukan sampah sehingga wajar saja dia mau bersusah-susah mengumpulkan sampah padahal ada tenaga CS.

Pikiran tersebut sedikit terbantahkan ketika pada suatu konferensi di kota lain, kembali si professor mengumpulkan sampah-sampah dari para peserta. Padahal para peserta adalah para dosen dari berbagai universitas termasuk yunior-yunior beliau dan kami, mahasiswanya. Saya berusaha menolak dan menawarkan untuk mengambil alih tugas mengumpulkan sampah tersebut. Namun dia bersikeras sehingga saya harus mengalah. Para dosen yang lainpun membisikkan bahwa si prof itu memang begitu, hobby mengumpulkan sampah.

Pernah juga suatu kali ketika saya hendak menyampaikan materi pada sebuah seminar dan beliau sebagai pembawa acara. Di ruangan terlihat beberapa kertas berserakan. Tidak di sangka, si Prof pun membungkuk di sela-sela meja untuk mengumpulkan sampah-sampah tersebut dengan tangannya sendiri kemudian memasukkannya ke tong sampah. Anehnya yang lain hanya memperhatikan saja, tidak hendak membantu.

Di ruangan kerja beliau, terdapat sebuah tong sampah biru yang biasa digunakan untuk bahan-bahan yang bisa di daur ulang. Sekantong tutup botol plastic juga terdapat disamping tong sampah tersebut. Sekretaris pribadinya pun hanya bias geleng-geleng kepala melihat tindakan beliau itu.

Penasaran, akhirnya saya pun menanyakan kepada beliau. Kenapa beliau senang mengumpulkan sampah tersebut. Beliaupun menjawab, bahwa pekerjaan mengumpulkan dan memisahkan sampah itu hanyalah pekerjaan kecil dan ringan saja, namun manfaatnya untuk keberlangsungan alam ini sangat besar. Sayangnya banyak orang yang tidak peduli. Sampah-sampah itu akan dibuang sembarangan dan tidak terpisahkan antara yang organik, daur ulang dan sampah umum walaupun tong untuk masing-masing jenis sampah sudah disediakan. Kalau kita tidak bertindak maka lingkungan ini akan lebih cepat rusaknya.

Begitulah keunikan dari professor ini. Padahal usianya sudah sangat tua dan beliau sangat dihormati. Dia bisa saja meminta bantuan kami para mahasiswanya atau para dosen yuniornya untuk melakukan yang diinginkannya. Toh sampah juga sampah kami, sehingga tidaklah terlalu menjadi persoalan. Dia juga punya sekretaris yang bisa dia mintai tolong, atau CS yang memang bertugas untuk itu. Tapi dia lebih cenderung melakukannya sendiri sebagai salah satu kontribusinya menjaga lingkungan. Bukan untuk dirinya karena dia sudah sangat tua, tapi untuk generasi-generasi mendatang. Semoga ada hikmahnya.

Copas dari blog saya lainnya: http://staff.unand.ac.id/yosritzal/2013/04/20/professor-pengais-sampah/